PENDIDIKAN ANAK USIA DINI - PAUD

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:

·         Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
·         Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.


A. Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini

·         Infant (0-1 tahun)
·         Toddler (2-3 tahun)
·         Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
·         Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)

Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun apabila tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, dan tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan perawatan yang bersifat purna yaitu promotif, preventif, dan rehabilitatif akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya (Sunarwati, 2007).

Penyelenggaraan pendidikan pada anak usia dini di negara maju telah berlangsung lama sebagai bentuk pendidikan yang berbasis masyarakat (community based education), akan tetapi gerakan untuk menggalakkan pendidikan ini di Indonesia baru muncul beberapa tahun terakhir. Hal ini didasarkan akan pentingnya pendidikan untuk anak usia dini dalam menyiapkan manusia Indonesia seutuhnya (MANIS), serta  membangun masa depan anak-anak dan masyarakat Indonesia seluruhnya (MASIS). Namun sejauh ini jangkauan pendidikan anak usia dini masih terbatas dari segi jumlah maupun aksesibilitasnya. Misalnya, penitipan anak dan kelompok bermain masih terkonsentrasi di kota-kota. Padahal bila dilihat dari tingkat kebutuhannya akan perlakuan sejak dini, anak-anak usia dini di pedesaan dan dari keluarga miskin jauh lebih tinggi guna mengimbangi miskinnya rangsangan intelektual, sosial, dan moral dari keluarga dan orang tua.

Pemerintah telah menunjukkan kemauan politiknya dalam membangunan sumber daya manusia sejak dini. Seperti disampaikan Ibu Megawati (wakil presiden pada saat itu) saat membuka Konferensi Pusat I Masa Bakti VII Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia. Beliau menegaskan pentingnya pendidikan anak usia dini dalam konsep pembinaan dan pengembangan anak dihubungkan pembentukan karakter manusia seutuhnya. Lebih jauh lagi beliau menyatakan sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan bagi anak di usia dini merupakan basis penentu pembentukan karakter manusia Indonesia di dalam kehidupan berbangsa.

Pernyataan ini menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini sangat penting bagi kelangsungan bangsa, dan perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah. Pendidikan anak usia dini merupakan strategi pembangunan sumber daya manusia harus dipandang sebagai titik sentral mengingat pembentukan karakter bangsa dan kehandalan SDM ditentukan bagaimana penanaman sejak anak usia dini. Pentingnya pendidikan pada masa ini sehingga sering disebut dengan masa usia emas (the golden age).

B. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Saat ini bidang ilmu pendidikan, psikologi, kedokteran, psikiatri, berkembang dengan sangat pesat. Keadaan itu telah membuka wawasan baru terhadap pemahaman mengenai anak dan mengubah cara perawatan dan pendidikan anak. Setiap anak mempunyai banyak bentuk kecerdasan (Multiple Intelligences) yang menurut Howard Gardner terdapat delapan domain kecerdasan atau intelegensi yang dimiliki semua orang, termasuk anak. Kedelapan domain itu yaitu inteligensi music, kinestetik tubuh, logika matematik, linguistik (verbal), spasial, naturalis, interpersonal dan intrapersonal.

Multiple Intelligences ini perlu digali dan ditumbuh kembangkan dengan cara memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan secara optimal potensi-potensi yang dimiliki atas upayanya sendiri (Tientje, 2000).

C. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini dalam Membangun Masa Depan Bangsa

Kondisi SDM Indonesia berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh PERC (Political and Economic Risk Consultancy) pada bulan Maret 2002 menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia berada pada peringkat ke-12, terbawah di kawasan ASEAN yaitu setingkat di bawah Vietnam. Rendahnya kualtias hasil pendidikan ini berdampak terhadap rendahnya kualtias sumber daya manusia Indonesia.

Dalam kondisi seperti ini tentunya sulit bagi bangsa Indonesia untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Pembangunan sumber daya manusia yang dilaksanakan di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan sebagainya, dimulai dengan pengembangan anak usia dini yang mencakup perawatan, pengasuhan dan pendidikan sebagai program utuh dan dilaksanakan secara terpadu. Pemahaman pentingnya pengembangan anak usia dini sebagai langkah dasar bagi pengembangan sumber daya manusia juga telah dilakukan oleh bangsa-bangsa ASEAN lainnya seperti Thailand, Singapura, termasuk negara industry Korea Selatan. Bahkan pelayanan pendidikan anak usia dini di Singapura tergolong paling maju apabila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Di Indonesia pelaksanaan PAUD masih terkesan ekslusif dan baru menjangkau sebagian kecil masyarakat. Meskipun berbagai program perawatan dan pendidikan bagi anak usia dini usia (0-6 tahun) telah dilaksanakan di Indonesia sejak lama, namun hingga tahun 2000 menunjukkan anak usia 0-6 tahun yang memperoleh layanan perawatan dan pendidikan masih rendah. Data tahun 2001 menunjukkan bahwa dari sekitar 26,2 jut anak usia 0-6 tahun yang telah memperoleh layanan pendidikan dini melalui berbagai program baru sekitar 4,5 juta anak (17%). Kontribusi tertinggi melalui Bina Keluarga Balita (9,5%), Taman Kanak-kanak (6,1%), Raudhatul Atfal (1,5%). Sedangkan melalui penitipan anak dan kelompok bermain kontribusinya masing-masing sangat kecil yaitu sekitar 1% dan 0,24%.

Masih rendahnya layanan pendidikan dan perawatan bagi anak usia dini saat ini antara lain disebabkan masih terbatasnya jumla lembaga yang memberikan layanan pendidikan dini jika dibanding dengan jumlah anak usia 0-6 tahun yang seharusnya memperoleh layanan tersebut. Berbagai program yang ada baik langsung (melalui Bina Keluarga Balita dan Posyandu) yang telah ditempuh selama ini ternyata belum memberikan layanan secara utuh, belum bersinergi dan belum terintegrasi pelayanannya antara aspek pendidikan, kesehatan dan gizi. Padahal ketiga aspek tersebut sangat menentukan tingkat intelektualitas, kecerdasan dan tumbuh kembang anak.

Pentingnya pendidikan anak usia dini telah menjadi perhatian dunia internasional. Dalam pertemuan Forum Pendidikan Dunia tahun 2000 di Dakar Senegal menghasilkan enam kesepakatan sebagai kerangka aksi pendidikan untuk semua dan salah satu butirnya adalah memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung, Indonesia sebagai salah satu anggota forum tersebut terikat untuk melaksanakan komitmen ini.

Perhatian dunia internasional terhadap urgensi pendidikan anak usia dini diperkuat oleh berbagai penelitian terbaru tentang otak. Pada saat bayi dilahirkan ia sudah dibekali Tuhan dengan struktur otak yang lengkap, namun baru mencapai kematangannya setelah di luar kandungan. Bayi yang baru lahir memiliki lebih dari 100 milyar neuron dan sekitar satu trilyun sel glia yang berfungsi sebagai perekat serta synap (cabang-cabang neuron) yang akan membentuk bertrilyun-trilyun sambungan antar neuron yang jumlahnya melebihi kebutuhan. Synap ini akan bekerja sampai usia 5-6 tahun. Banyaknya jumlah sambungan tersebut mempengaruhi pembentukan kemampuan otak sepanjang hidupnya. Pertumbuhan jumlah jaringan otak dipengaruhi oleh pengalaman yang didapat anak pada awal-awal tahun kehidupannya, terutama pengalaman yang menyenangkan. Pada fase perkembangan ini akan memiliki potensi yang luar biasa dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, matematika, keterampilan berpikir, dan pembentukan stabilitas emosional.

Ada empat pertimbangan pokok pentingnya pendidikan anak usia dini, yaitu: (1) menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas, (2) mendorong percepatan perputaran ekonomi dan rendahnya biaya sosial karena tingginya produktivitas kerja dan daya tahan, (3) meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat, (4) menolong para orang tua dan anak-anak.

Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Pendidikan anak usia dini sepatutnya juga mencakup seluruh proses stimulasi psikososial dan tidak terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi dalam lembaga pendidikan. Artinya, pendidikan anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan dari hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak usia dini.

D. Perkembangan Anak Usia Dini

Sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa memberikan pendidikan anak usia dini cukup dilakukan oleh orang dewasa yang tidak memerlukan pengetahuan tentang PAUD. Selain itu juga mereka menganggap PAUD tidak memerlukan profesionalisme. Pandangn tersebut adalah keliru.

Jika PAUD ingin dilakukan di rumah oleh ibu-ibu sendiri, maka ibu-ibu itu perlu belajar dan menambah pengetahuan tentang proses pembelajaran anak, misalnya dengan membaca buku, mengikuti ceramah atau seminar tentang PAUD.

Kenyataannya semakin banyak ibu-ibu bekerja di luar rumah, oleh karena itu haruslah orang yang menggantikan peran ibu tersebut memahami proses tumbuh kembang anak.

Pembelajaran pada anak usia dini adalah proses pembelajaran yang dilakukan melalui bermain. Ada lima karakteristik bermain yang esensial dalam hubungan dengan PAUD (Hughes, 1999), yaitu: meningkatkan motivasi, pilihan bebas (sendiri tanpa paksaan), non linier, menyenangkan dan pelaku terlibat secara aktif.

Bila salah satu kriteria bermain tidak terpenuhi misalnya guru mendominasi kelas dengan membuatkan contoh dan diberikan kepada anak maka proses belajar mengajar bukan lagi melalui bermain. Proses belajar mengajar seperti itu membuat guru tidak sensitif terhadap tingkat kesulitan yang dialami masing-masing anak.

Ketidaksensitifan orangtua terhadap kesulitan anak bisa juga terjadi, alasan utama yang dikemukakan biasanya karena kurangnya waktu karena orangtua bekerja di luar rumah.
Memahami perkembangan anak dapat dilakukan melalui interaksi dan interdependensi antara orangtua dan guru yang terus dilakukan agar penggalian potensi kecerdasan anak dapat optimal. Interaksi dilakukan dengan cara guru dan orangtua memahami perkembangan anak dan kemampuan dasar minimal yang perlu dimiliki anak, yaitu musikal, kinestetik tubuh, logika matematika, linguistik, spasial, interpersonal dan intrapersonal, karena pada umumnya semua orang punya tujuh intelegensi itu, tentu bervariasi tingkat skalanya.

E. Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Anak adalah perwujudan cinta kasih orang dewasa yang siap atau tidak untuk menjadi orang tua. Memiliki anak, siap atau tidak, mengubah banyak hal dalam kehidupan, dan pada akhirnya mau atau tidak kita dituntut untuk siap menjadi orang tua yang harus dapat mempersiapkan anak-anak kita agar dapat menjalankan kehidupan masa depan mereka dengan baik.

Mengenal, mengetahui, memahami dunia anak memang bukan sesuatu yang mudah. Dunia yang penuh warna-warni, dunia yang segalanya indah, mudah, ceria, penuh cinta, penuh keajaiban dan penuh kejutan. Dunia yang seharusnya dimiliki oleh setiap anak anak namun dalam kepemilikanya banyak bergantung pada peranan orang tua.

Para ahli sependapat bahwa peranan orang tua begitu besar dalam membantu anak-anak agar siap memasuki gerbang kehidupan mereka. Ini berarti bahwa jika berbicara tentang gerbang kehidupan mereka, maka akan membicarakan prospek kehidupan mereka 20-25 tahun mendatang. Pada tahun itulah mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya. Masuk ke dalam kemandirian penuh, masuk ke dalam dunia mereka yang independen yang sudah seharusnya terlepas penuh dari orang tua dimana keputusan-keputusan hidup mereka sudah harus dapat dilakukan sendiri. Disinilah peranan orang tua sudah sangat berkurang dan sebagai orang tua, pada saat itu kita hanya dapat melihat buah hasil didikan kita sekarang, tanpa dapat melakukan perubahan apapun.

Mengapa orang tua perlu meningkatkan intelektualitas anak demi mempersiapkan mereka masuk sekolah? Jawabannya, sekolah saat ini meminta persyaratan yang cukup tinggi dari kualitas seorang siswa. Masih didapat siswa yang masuk SD sudah diperkenalkan dengan berbagai macam pelajaran dan ilmu sejak dini. Anak-anak sudah harus memiliki kreativitas yang tinggi sejak kecil. Oleh sebab itu, anak-anak yang memiliki intelektualitas yang tinggi akan lebih mudah menerima dengan baik semua yang diajarkan. Mereka akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi, lebih mudah beradaptasi, lebih mudah menerima hal-hal yang baru, atau intelektualitas anak bisa dikembangkan jauh sebelum mereka masuk ke sekolah. Kondisi seperti itulah yang menempatkan orang tua sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya dalam program pendidikan informal yang terjadi di lingkungan keluarga.

F. Permasalahan Pendidikan Anak Usia Dini

Memasuki abad XXI dunia pendidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan besar. Pertama, sebagai akibat dari multi krisis yang menimpa Indonesia sejak tahun 1997, dunia pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Kedua, untuk mengantisipasi era globalisasi, dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga mampu bersaing dalam pasar kerja global. Ketiga, sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, perlu dilakukan perubahan dan penyesuaian system pendidikan nasional, sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis, memperhatikan keragaman potensi, kebutuhan daerah, peserta didik, dan mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.

Permasalahannya adalah ketidaksiapan bangsa Indonesia menghadapi ketiga tantangan di atas, disebabkan rendahnya mutu sumber daya manusianya. Untuk menghadapi tantangan itu, diperlukan upaya serius melalui pendidikan sejak dini yang mampu meletakkan dasar-dasar pemberdayaan manusia agar memiliki kesadaran akan potensi diri dan dapat mengembangkannya bagi kebutuhan diri, masyarakat dan bangsa sehingga dapat membentuk masyarakat madani. Pendidikan anak usia dini merupakan hal paling mendasar yang dilakukan sedini mungkin dan dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu. Menyeluruh, artinya layanan yang diberikan kepada anak mencakup layanan pendidikan, kesehatan dan gizi. Terpadu mengandung arti layanan tidak saja diberikan pada anak usia dini, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat sebagai satu kesatuan layanan.

ASESMEN PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA ANAK USIA DINI

Berdasarkan ‘The National Educational Goals Panel’ penggunaan asesmen yang tepat adalah (l) mengakses untuk meningkatkan perkembangan dan belajar anak; (2) mengakses untuk mengidentifikasi kesehatan dan pelayanan yang diberikan pada anak; (3) mengakses untuk memonitor kecenderungan dan mengevaluasi program dan pelayanan dan (4) mengakses prestasi akademik untuk akuntabilitas anak, guru dan sekolah. Adapun The National Educational Goats panel tersebut dibentuk untuk memperbaiki cara mengases kesiapan anak untuk masuk sekolah.

Berkenaan dengan perkembangan tes standar yang dapat dilihat dari berbagai perspektif, The Nationar Association for the Eduiation of young Children (NAEYC) dan National Association of Early childhood Specialist in State Departements of Education (NAECS/SDE) telah mengembangkan suatu pernyataan posisi (a posititon statement). Pendapatnya adalah bahwa standar belajar (learning standards) akan bermanfaat untuk pengalaman pendidikan anak usia dini, hanya jika standar belajar tersebut (l) menekankan pada signifikansi kandungan dan hasil perkembangan yang sesuai; (2) dikembangkan dan di-review kembali melalui proses yang tepat dan inklusif; (3) menggunakan penerapan dan strategi asesmen yang sesuai dengan etika untuk anak usia dini; ( 4) didukung oleh program pendidikan anak usia dini, para ahli dan keluarga anak.

Meisels (dalam Nilsen, 1987) mengkritisi "Tes Kesiapan Prasekolah Gesell” sebagai predikator kesuksesan yang tidak valid di TK. Banyak sekolah menggunakan tes ini sebagai alat seleksi perkembangan anak Berdasarkan hasil tes kesiapan tersebut,  dibuat rekomendasi untuk menunda anak masuk sekolah atau mengikuti kelas transisi selama setahun antara TK dan kelas l. Meisels berpendapat bahwa ini adalah penyalahgunaan dari sebuah tes yang reliqbilitas dan validitasnya rendah. Penyalahgunaan tes terjadi ketika hasilnya digunakan sebagai satu-satunya faktor penentu penempatan anak di sekolah khusus arau untuk melabel anak yang mengalami masalah perkembangan. Segala keputusan besar yang berpengaruh pada anak.

Penulis-penulis konstruktif NAEYC, seperti Kamii & Kamii (1990) dalam bukunya "Achievement Testing in the Early Grades: The Games Grown-ups Play" menyebutkan satu per satu penyalahgunaan dari tes yaitu sebagai berikut.
  1. Hasil dari tes yang distandarisasi mungkin tidak layak digunakan sebagai tes penyeleksian kesiapan untuk keputusan penernpatan anak.
  2. Pengadaan tes yang distandarisasi letrih menekankan pada kurikulum akademik yang seharusnya dilokaiisasi, tidak disentralisasi.
  3. Tes prestasi seringkali tidak mencerminkan teori atau penelitian yang ada tentang bagaimana anak-anak belajar.
  4. Banyak sekolah "mengajarkan tes pada anak" untuk menaikkan nilai sekolah.
  5. Tes yang distandarisasi tidak dapat memprediksi prestasi yang akan dicapai anak di masa depan.
Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber !!

LANDASAN KONSEPTUAL PENYELENGGARAAN TAMAN KANAK-KANAK (TK)

Taman Kanak-kanak, kelas TK, Pembelajaran di TK, Siswa TK
PAUD-Anakbermainbelajar---Profesionalitas penyelenggaraan lembaga pendididkan Taman Kanak-kanak akan banyak tergantung dari kejelasan landasan konseptual (teoritik) yang dipergunakan oleh penyelenggara dan pendidik (guru) di TK. Landasan konseptual yang dimaksud adalah berbagai bentuk atau model dasar teoritik yang selama ini dikembangkan para ahli dalam melaksanakan dan mengembangkan lembaga pendidikan anak usia dini, khususnya pada pendidikan anak usia TK. Landasan ini akan memberikan warna tersendiri bagi lembaga penyelenggara dan pendidik dalam melaksanakan pendidikan pada anak usia dini.

Jika anda mengamati kenyataan pelaksanaan pendidikan di TK sekarang ini terdapat keragaman penyelenggaraan. Dalam penyelenggaraan pendidikan TK sekurang-kurangnya telah berkembang secara nasional konsep tentang pendidikan TK Atraktif yang dimulai tahun 1999, pengembangan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif dan Menyenangkan), CRI (Children Resources International) yang memberikan gambaran umum tentang "Pembelajaran yang Berpusat pada Anak" dan model pembelajaran area. Masing-masing ragam pembelajaran tersebut memiliki landasan konseptual sendiri-sendiri walaupun di antaranya banyak memiliki kesamaan.

Jika anda menghendaki penggunaan salah satu ragam pembelajaran tersebut dan menjadi guru yang profesional, anda seharusnya memahami secara konseptual dan praksis pelaksanaan dari model tersebut. Kata praksis ini digunakan untuk merujuk makna praktik pendidikan (pembelajaran) di TK yang berbasis pada landasan konseptual yang jelas.

Landasan konseptual tersebut akan memberikan dampak nyata pada cara berpikir, bersikap dan bertindak guru terutama ketika melaksanakan proses pembelajaran di TK. Sebagai contoh, seorang guru TK akan menyadari sepenuhnya mengapa dalam pelaksanaan pembelajaran harus mengembangkan aktivitas permainan yang memungkinkan anak aktif (active learning) dan bergerak (berpindah) atau sering disebut pula dengan istilah moving atau moving class (kelas pindah). Landasan konseptual tersebut memberikan dasar bagi pembelajaran anak usia dini dengan model arena dan model sentra. https://paud-anakbermainbelajar.blogspot.co.id/

Berbagai landasan konseptual (teoritik) yang dimaksud di antaranya adalah berikut ini :

1. Model Pembelajaran Pestalozi

Model pembelajaran ini menitik beratkan pada AVM (Auditory, Visual, Memory), yakni mengembangkan kemampuan penglihatan, pendengaran dan daya ingat yang semua ini dapat dikemas melalui pengembangan bahasa atau suara, bentuk dan konsep bilangan (berhitung permulaan) pada anak usia dini.


2. Model Pembelajaran Frobel

Model pembelajaran ini menitikberatkan pada Utoaktivitas anak (anak menunjukan keaktifan yang muncul atas dorongan dari dalam dirinya sendiri) dan Frobel menciptakan alat permainan yang disebut spiel foremen (spiel artinya permainan, Formen artinya membentuk bangunan), maksudnya adalah permainan bentuk, seperti dari plastisin, mozaik, tanah liat, stick es krim, kertas-kertas bekas atau kertas origami, balok-balok dan lain sebagainya. Pembelajaran ini dilakukan dalam suasana 3 F, yakni Friede (suasana damai, Freude (gembira) dan Freiheit (merdeka).


3. Model Pembelajaran Jan Lighart

Model pembelajaran ini menitik beratkan pada "Pengajaran barang sesungguhnya", mengajak anak pada suasana belajar yang sesungguhnya melalui pengamatan alam sekitarnya. Langkah-langkah pembelajaran Jan Lighart, yaitu:
a. Menentukan sesuatu yang menjadi pusat minat anak
b. Melakukan perjalanan sekolah
c. pembahasan hasil pengamatan
d. menceritakan lingkungan yang diamati
e. kegiatan ekspresi.


4. Model Pembelajaran Montessori

Model pembelajaran ini menitikberatkan pada "Pendidikan Pedosentris" (pusat aktivitas pendidikan terletak pada anak didik itu sendiri). Montessori beranggapan bahwa semua bentuk pendidikan pada dasarnya adalah pendidikan diri sendiri. Dalam mengembangkan kemampuan anak, pengembangan fungsi panca indar harus mendapatkan kesempatan yang besar.


5. Model Pembelajaran Helen Parkhust

Model pembelajaran ini menitikberatkan pada "pembelajaran sentra" (setiap ruangan sentra terdiri dari satu rumpun pengembangan) yang masing-masing anak dapat memilih sentra sesuai dengan keinginan anak masing-masing. Pembelajaran sentra memungkinkan anak dapat bebas bergerak bebas sesuai dengan keinginan anak.


6. Model Pembelajaran John Dewey

Model Pembelajaran John Dewey menitikberatkan pada learning by doing atau "belajar sambil bekerja", yaitu sebagai berikut:
  • Pengajaran harus dapat menghubungkan isi kurikulum dengan lingkungan hidup anak
  • Konsep dan cara mengajarkan membaca, menulis dan berhitung permulaan dengan bahan yang menarik dan sesuai dengan lingkungan hidup anak-anak
  • Konsep dan cara membangkitkan perhatian anak.

7. Model Pembelajaran W.H. Kilpatrick

Model pembelajaran ini menitik beratkan pada "Pengajaran Proyek", yaitu suatu model pengajaran yang memungkinkan anak mengolah sendiri untuk menguasai bahan pelajaran yang dilakukan guru dengan jalan menyajikan suatu bahan pengajaran melalui pengajaran proyek total, proyek parsial dan proyek occasional. Langkah-langkah pembelajaran proyek adalah sebagai berikut:

  • Persiapan tema dan pokok masalah yang dilaksanakan dengan menggunakan pengajaran proyek
  • Pendahuluan dengan melakukan percakapan bersama anak-anak secara klasikal tentang tema atau pokok masalah
  • Perjalanan sekolah atau survei ke tempat yang sudah ditentukan. Perjalanan dilakukan ke tempat yang terdekat dengan lingkungan sekolah saja.
  • Pengolahan masalah dilakukan anak-anak dengan melaporkan apa yang telah ditemukan ketika melakukan survei
  • Pameran, dirancang oleh anak-anak sendiri untuk memasang hasil karya yang telah dikerjakan bersama-sama.

8. Model Pembelajaran Ovide Decroly

Model Pembelajaran ini menitik beratkan pada "Pengajaran Simbiotis", yaitu pengajaran yang harus totalitas atau satu kesatuan terpadu antara bahan pembelajaran satu dengan lainnya. Bahan pengajaran harus dihubungkan berdasarkan persekutuan hidup bukan didasarkan atas hubungan logis atau ilmiah. Langkah pembelajaran simbiotis, yaitu observasi (pengamatan) asosiasi (pengolahan) dan ekspresi (pengungkapan).


9. Model Pembelajaran Vigotsky

Model pembelajaran ini menitikberatkan pada "Alat berpikir mental", melalui bentuk-bentuk kegiatan block building (bangunan balok), mapping (pemetaan), making pattern (penyusunan pola), dramtic play (permainan dramatik), story telling (menyampaikan cerita) dan journal writing (penulisan jurnal).


10. Model Pembelajaran Jean Piaget

Model pembelajaran ini menitikberatkan pada "Pembelajaran kognitif", dimana anak usia TK sedang memasuki masa pra-operasional, yaitu anak melakukan simbolisasi terhadap objek yang tidak ada atau objek yang tidak diketahuinya ketika terjadi pemindahan objek. Anak pada usia ini terpusat pada diri sendiri (egosentris). 
https://paud-anakbermainbelajar.blogspot.co.id/





LANDASAN OPERASIONAL PENYELENGGARAAN TAMAN KANAK-KANAK (TK)

PAUD-Anakbermainbelajar---Pelaksanaan berbagai lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak di Indonesia biasanya diatur melalui keputusan menteri atau surat edaran direktur atau direktur jenderal. Untuk melaksanakan kegiatan pendidikan pada Taman Kanak-kanak diatur dalam keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 0518/Kep-Dikbud/97. Adapun untuk melaksanakan pendidikan pada Kelompok Bermain dan Tempat pengasuhan anak (TPA) diatur dalam keputusan menteri pendidikan Nomor 0571/Kep-Dikbud/97. Di samping rambu-rambu pelaksanaan yang telah diatur dalam surat keputusan tersebut, terdapat juga surat edaran tentang tata cara pendirian dan mekanisme pelaksanaan.

Di samping acuan operasional tersebut, penyelenggaraan TK biasanya diatur secara lebih terperinci dalam bentuk Standar Pelayanan Minimal (SPM), demikian juga pelaksanaan juga mengacu pada Standar Oprasional Prosedur (SOP) yang telah disusun oleh pihak-pihak yang berkompeten. 


LANDASAN YURIDIS PENYELENGGARAAN TAMAN KANAK-KANAK (TK)

PAUD-Anakbermainbelajar---Dalam rangka mengatur berbagai penyelenggaraan pendidikan di Indonesia pemerintah sebelumnya telah menyusun dan memberlakukan Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang ini menjadi payung bagi para pelaksana dan penyelenggara pendidikan dari tingkat pendidikan prasekolah sampai tingkat pendidikan tinggi. Sebagai bentuk penjabaran dari Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 yang berkaitan dengan lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak telah dibuat peraturan pemerintah Nomor 27 tahun 1990 yang juga mengatur penyelenggaraan KB dan TPA. Walaupun undang-undang ini telah diganti oleh Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, ada baiknya kita ulang kembali dan mencoba melakukan perbandingan. Beberapa perbedaan penyebutan, pengelompokan, dan penjelasan tentang TK di antara kedua Undang-undang tersebut, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut;

1. Dalam undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 dikemukakan beberapa ayat yang terkait dengan penyelenggaraan TK, di antara adalah berikut ini.
a. Pasal 5 (ayat 1), yaitu "Taman Kanak-kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang terdapat di jalur pendidikan sekolah".
b. Pasal 6 (yat 1), yaitu "Taman Kanak-kanak merupakan bentuk pendidikan prasekolah yang menyelenggarakan pendidikan dini bagi anak 4 tahun sampai 6 tahun".
c. Pasal 14, yaitu "Persyaratan pendirian Taman Kanak-kanak harus memenuhi adanya kurikulum, anak didik, pendidik, saran dan prasarana".

2. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 28 dikemukakan tentang Pendidikan anak usia dini salah satunya adalah TK yang berada dalam jalur pendidikan formal yang isinya sebagai berikut;
a.  Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
b. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.
c.  Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berntuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA) atau bentuk lain sederajat.
d. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat.
e.  Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
f.  Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur  lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Berdasarkan pasal dan ayat di atas terdapat perbedaan istilah dalam pengelompokan TK. Dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989, TK dikelompokan sebagai lembaga pendidikan prasekolah yang terdapat di jalur sekolah, sedangkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, TK sebagai salah satu lembaga pendidikan anak usia dini yang terdapat di jalur formal. https://paud-anakbermainbelajar.blogspot.com/

Dari beberapa hal di atas dapat kita lihat bahwa, konsep tentang sekolah dan formal memiliki bebersapa persamaan dan perbedaan. Persamaan keduanya terletak pada substansi bahwa TK diselenggarakan dengan mekanisme dan kurikulum yang berstruktur serta bersyarat dalam hal penyelenggaraan. Adapun perbedaannya terletak pada konsep sekolah yang lebih mengacu pada penyelenggaraan persekolahan yang mengharuskan adanya sarana prasarana gedung, halaman dan peralatan minimal (di dalam dan di luar kelas), sedangkan konsep formal lebih merujuk pada ketertiban dan keresmian dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan TK. Namun demikian, perbedaan tersebut bukanlah merupakan hal yang prinsip dan jika diperdebatkan pada akhirnya akan mencapai titik temu persamaan di antara keduanya.


LANDASAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI TAMAN KANAK-KANAK (TK)

TK di Banjarmasin, landasan TK, Pengelolaan TK, Manajemen TK, TK Negeri Pembina
PAUD-Anakbermainbelajar---Untuk menyelenggarakan dan mengelola sebuah Taman Kanak-kanak (TK) kita harus memahami Landasan penyelenggaraannya. Hal ini dimaksudkan agar kita memiliki dasar dan arah untuk mengelola sebuah lembaga Pendidikan TK yang baik. Kerangka landasan ini juga diharapkan dapat memberikan acuan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran, melakukan penelitian, menata administrasi, menata sarana dan prasarana serta melakukan monitoring dan pengawasan penyelenggaraan TK.

Ada 3 tiga landasan penyelenggaraan pendidikan TK ini yaitu :

1. Landasan Yuridis

Landasan Yuridis berisi tentang acuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang mengatur penyelenggaraan pendidikan TK.



2. Landasan Operasional

Landasan operasional berisi tentang teknis penyelenggaraan TK sebagai penjabaran peraturan pemerintah yang biasanya disusun dalam keputusan Menteri.



3. Landasan Konseptual

Landasan Konseptual atau sering dikenal dikenal dengan landasan teoritis berisi tentang pedoman teoritis atau acuan konseptual dalam menyelenggarakan pendidikan di TK.


INILAH CIRI-CIRI PERKEMBANGAN ANAK MENURUT TEORI

Perkembangan Peserta Didik

Secara umum, dapat diartikan bahwa perkembangan merupakan pola perubahan yang dimulai pada saat konsepsi (pembuahan) dan berlanjut di sepanjang rentang kehidupan. Kebanyakan perkembangan melibatkan pertumbuhan, bahkan pada kematian sekalipun, pertumbuhan tetap ada (Santrock, 1998) dalam Papalia, dkk (2004). disebutkan bahwa perkembangan manusia merupakan suatu studi ilmiah tentang bagaimana seseorang berubah dan sekaligus bagaimana mereka tetap sama dalam waktu yang berbeda.

Perkembangan adalah perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematik, progresif dan berkesinambungan baik menyangkut fisik dan psikis. secara sistematis adalah perubahan dalam perkembangan itu besifat saling mempengaruhi antara bagian-bagian organism (fisik dan psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Secara progresif perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, mendalam baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis) dan secara berkesinambungan perubahan pada bagian atau fungsi organism berlangsung secara beraturan.

Manusia pada dasarnya memiliki perkembangan yang merujuk kepada perubahan fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi dan hasil dari interaksi proses biologis dan genetika lingkungan sementara psikis menyangkut keseluruhan karakteristik psikologis individu seperti perkembangan kognitif,emosi,social dan moral. Adapun ciri-ciri perkembangan secara umum seperti berikut:
  • terjadinya perubahan dalam aspek fisik ( perubahan berat badan dan organ-organ tubuh) dan aspek psikis (matangya kemampuan berfikir, mengingat serta berkreasi)
  • terjadinya perubahan dalam proporsi; aspek fisik ( proporsi tubuh anak berubah sesuai fase perkembangannya) dan aspek psikis (perubahan dari imajenasi fantasi ke realitas)
  • Lenyapnya tanda-tanda yang lama; aspek fisik( lenyapnya kelenjar thymus (kelenjar anak-anak) seiring bertambahnya usia) aspek psikis ( lenyapnya prilaku kanak-kanak dan prilaku implusif
  • Di perolehnya tanda-tanda yang baru ; aspek fisik ( pergantian gigi dan karakter seks pada usia remaja) aspek psikis berkembangya rasa ingin tahu tentang pengetahuan, moral, interaksi dengan lawan jenis).


Adapun prinsip-prinsip perkembangan sebagai berikut :
  1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending proses) artinya manusia secara terus menerus berkembang dipengaruhi oleh pengalaman dan belajar.
  2. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi artinya setiap aspek perkembangan individu baik fisik, emosi, intelegensi maupun social saling mempengaruhi jika salah satu aspek tersebut tidak ada.
  3. Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu artinya perkembangan itu terjadi secara teratur sehingga hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan persyaratan bagi perkembangan selanjutnya


Menurut Yelon dan Weinstein 1977 pola atau arah perkembangan itu sebagai berikut:

    Cephalocaudal (perkembangan itu dimulaia dari kepala ke kaki, artinya yang matang duluan adalah bagian atas kemudian ke bagian bawah dan tidak mungkin terbalik), dan proximodistal (dari tengah ke samping seperti paru dan jantung, ke pinggir seperti tangan)
    Struktur mendahului fungsi, yang berarti bahwa anggota tubuh individu akan berfungsi setelah matang strukturnya. Seperti mata melihat setelah otot-ototnya matang.
    Perkembangan itu berdiferensiasial maksudnya perkembangan itu berlangsung dari umum ke khusus.
    Perkembangan itu berlangsung dari konkret ke abstrak, maksudnya perkembangan itu berproses dari suatu kemampuan berfikir yang konkret ( objeknya tampak ke abstrak (objeknya tidak tampak)
    Perkembangan itu berlangsung dari egosentris menjadi perspektifis. sifat yang melihat atau memperhatikan dirinya sebagai pusat, tapi melalui pengalamannya dalam bergaul dengan temannya lambat laun sifat egosentris itu berubah menjadi perspektifis (anak sudah mulai memerhatikan kepentingan orang lain)
    Perkembangan itu berlangsung dari “outer control to inner control”, maksudnya pada awal anak sangat bergantung pada orang lain sehingga hidupnya didominasi oleh pengontrolan dari luar seiiring bertambahnya pengalaman dari lingkungan ia mampu mengontrol dirinya sendiri.
    Pekembangan terjadi pada tempo yang berlainan. Perkembangan fisik dan mental mencapai kematangannya pada waktu dan tempo yang berbeda ( ada cepat dan ada yang lambat)


Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Prinsip ini dijelaskan dengan contoh yaitu:
  • Sampai usia dua tahun,anak memusatkan untuk mengenal lingkungannya.
  • Pada usia tiga sampai enam tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia social (belajar bergaul dengan orang lain)
  • Setiap indivudu yang normal akan mengalai tahapan / fase perkembangan. Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani hidupnya yang normal dan berusia panjang individu akan mengalami fase-fase perkembangan.


Menurut pendapat para ahli mengenai periodisasi yang bermacam-macam tadi dapat digolongkan dalam tiga bagaian, yaitu:
  1. Periodisasi atau pembagian masa-masa perkembangan yang berdasar biologis didasarkan kepada keadaan atau proses biologis tertentu. Pembagian Aristoteles didasar atas gejala pertumbuhan jasmani yaitu antara fase satu dan fase kedua dibatasi oleh pergantian gigi. Antara fase kedua dan fase ketiga ditandai dengan mulai bekerjanya kelenjar kelengkapan kelamin.
  2. Periodisasi yang berdasarkan psikologis. Tokoh utama yang mendasrkan periodisasi ini kepada keadaan psikologis ialah Oswald Kroch. Ia menjadikan masa-masa kegoncangan sebagai dasar masa-masa perkembangan, karena ia yakinbahwa masa kegoncangan inilah yang merupakan keadaan psikologis yang khas dan dialami oleh setiap anak dalam masa perkembangannya.
  3. Periodisasi yang berdasarkan didaktis pembagian masa-masa perkembangan sekarang ini seperti yang dikemukakan oleh Haevey A. Tilker dan Elizabeth B Hurlock tampak sudah lengkap mencakup sepanjang hidup manusia sesuai dengan hakihat perkembangan manusia yang berlangsung sejak konsepsi sampai mati dengan pembagian periodisasinya sebagai berikut:

Masa sebelum lahir (prenatal period)

Masa konsepsi 9 bulan 10 hari.

Periode telur (zygote sampai akhir minggu ke dua).

Periode embrio akhir minggu ke dua akhir bulan ke dua.

Periode janin aetus akhir bulan ke dua sampai masa lahir.

Masa bayi baru lahir ( new born)

Sejak bayi lahir usia 10-15 hari.

Masa platean stage adalah masa pemberhentian pertumbuhan.

Masa bayi (babyhood)

Usia 2 minggu sampai 2 tahun masa ini sebagai masa periode kritis, periode pembentukan segala pengaruh dasar kepribadian.

Masa kanak-kanak awal (early childhood)

Masa mempersiapkan diri hidup di lingkungan social (kelas 1 SD).

Masa kanak-kanak akhir (later childhood)

Usia 6-12 tahun masa anak siap menerima tuntutan orang di luar.

Masa puber (puberty)

Periode tumpang tindih antara masa kanak-kanak akhir dan masa awal remaja. Usia berkisar 10- 16 tahun perubahan tubuh (proporsi, kondisi) pertumbuhan ciri-ciri seks awal dan skunder.

    Masa dewasa awal (early adulthood) 21-40 tahun
    Masa dewasa madya (middle adulthood) 40-60 tahun
    Masa usia lanjut (later adulthood) 60 keatas

Melalui pengetahuan ini kiranya seorang tua diharapkan memperhatikan perkembangan anaknya jika terjadi penyimpangan ataupun pendahuluan perkembangan orang tua harusnya meluruskan hal-hal yang terlihat kurang sehingga anak dapat berkembang sesuai fase-fase perkembangan yang dipaparkan tadi dan tentunya terhindar dari percepatan pertumbuhan yang terjadi pada anak-anak masa kini.

INILAH 7 MANFAAT BERMAIN UNTUK ANAK USIA DINI

Dunia anak, anak bermain, manfaat bermain, bermain diPAUD, permainan Anak Usia Dini, Permainan anak Outdoor
PAUD-Anakbermainbelajar---Bermain adalah sesuatu yang sangat penting bagi anak usia dini, karena dunia anak itu pada dasarnya adalah dunia bermain, dunia yang menyenangkan, penuh dengan warna warni yang indah sesuai dengan kehidupan anak-anak. Kegiatan bermain itu sangat disukai oleh anak usia dini, lihatlah sebagian besar waktu anak-anak itu digunakan untuk bermain. Banyak Ilmuwan telah melakukan berbagai penelitian dan diperoleh temuan bahwa bermain mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan anak, baik dalam ranah fisik, motorik, kognitif, bahasa dan sosial, serta emosional. Alat bermain (mainan) ataupun kegiatan bermain tertentu, secara bersamaan memiliki banyak sekali manfaat, jadi tidak hanya mempunyai satu manfaat saja bagi anak usia dini.

Berikut  inilah manfaat-manfaat bermain untuk anak usia dini yang sering kita temukan dalam berbagai kesempatan baik dalam keseharian anak dirumah maupun di sekolah (lembaga PAUD);

1. Manfaat bermain dalam perkembangan kognitif anak usia dini

seperti kita ketahui bahwa aspek kognitif itu berkaitan dengan daya ingat, daya tangkap, kemampuan memahami suatu informasi, pengetahuan yang dikuasai seseorang, daya nalar, daya analisis, daya imajinasi, dan daya cipta atau kreativitas (Reber, 1995). Melalui bermain, anak akan belajar berbagai pengetahuan dan konsep dasar. Pengetahuan akan konsep-konsep ini jauh lebih mudah diperoleh melalui kegiatan bermain, sebab rentang perhatian anak Balita masih terbatas. Lagi pula mereka juga masih sulit diatur, sulit untuk dapat duduk tenang lebih dari lima belas menit. Cara terbaik yang paling tepat untuk memperkenalkan berbagai pengetahuan dan konsep dasar adalah melalui bermain. Misalnya untuk memperkenalkan konsep warna dilakukan sambil bermain melempar bola ke dalam keranjang yang berwarna sama dengan bola yang dilempar. Dapat disediakan beberapa warna bola serta keranjang dan diterapkan aturan bermain bahwa bola biru dilempar ke keranjang biru dan seterusnya. Daya cipta, misalnya dapat dikembangkan melalui bermain konstruktif. Anak diminta menyusun sejumlah balok atau kepingan-kepingan plastik untuk membentuk sesuatu atau menggambar berdasarkan imajinasinya. 


2. Manfaat bermain dalam perkembangan bahasa anak usia dini 

Menurut Vygotsky (Owens, 1996), Bahasa merupakan faktor penting untuk dikuasai manusia karena perkembangan intelektual seorang anak terkait dengan bahasa. Bahasa membantu anak mengarahkan pikiran, menajamkan ingatan, melakukan kategorisasi, dan memperlajari hal-hal baru sehingga kemampuan berpikir anak semakin meningkat.

Pada usia empat tahunan diharapkan anak sudah dapat menggunakan lebih dari seribu katan dan usia tahunan menggunakan sekitar 2600 kata dan mampu memahami 20.000 kata (Owens, 1996). Sejak usia satu setengah tahun seorang anak dapat mempelajari sekitar sembilan kata baru setiap harinya (Rice dalam Papalia et.al., 2004). Kriteria tersebut tidak berlaku mutlak, tetapi dapat digunakan sebagai tolok ukur dalam memantau perkembangan bahasa pada anak. 


3. Manfaat bermain dalam perkembangan fisik anak usia dini

Melalui bermain anak dapat menyalurkan energi tubuhnya yang banyak digunakan karena ia senang bergerak sehingga iapun memperoleh kepuasan dan tidak merasa dirinya terkekang. Dengan bergerak naik-turun tangga, berlarian disekitar ruangan, jumpalitan, melompat, meloncat, meniti, bermain perosotan, bermain ayunan, dan seterusnya maka otot-otot tubuhnya pun menjadi kuat dan tubuhnya menjadi sehat.


5. Manfaat bermain dalam perkembangan motorik anak usia dini

Sumbangan bermain terhadap perkembangan motorik, baik motorik kasar maupun halus sudah sangat jelas.  Apabila kita perhatikan anak menjelang usia dua tahun bermain dengan berlari-lari kecil maka selanjutnya di usia tiga tahun anak tersebut sudah terampil berlari. Beda halnya dengan anak yang kurang diberi kesempatan untuk melakukan aktivitas ini, gerakan berlarinya nampak canggung sekalipun usianya sudah tiga tahunan. Hal ini berlaku pula dalam aktivitas lain yang membutuhkan gerakan motorik kasar, seperti melompat, meloncat, meniti, berjumpalitan. Apabila anak-anak diberi kesempatan untuk melakukannya, niscaya mereka akan lincah bergerak.

6. Manfaat bermain dalam perkembangan sosial anak usia dini

Di usia prasekolah, anak perlu belajar berpisah dengan orang tua atau pengasuhnya. Perpisahan dengan orang tua atau pengasuhnya tidak akan begitu dirasakan oleh anak apabila dilakukan dalam situasi bermain yang menyenangkan hatinya. Sebaliknya, melalui bermain pula, anak akan semakin mahir besosialisasi dengan orang lain dan teman-teman sebayanya. Bersosialisasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat berbaur dengan orang lain, menyesuaikan diri dengan kegiatan dan kebiasaan kelompok, dan dengan segala macam orang yang memiliki karakteristik unik. Anakpun belajar untuk berbagi dengan sesama teman, menunggu giliran sehingga ia belajar untuk bersabar diri. Kemampuan memecahkan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan kehidupan anak pun akan ia temukan. Misalnya, bagaimana ia harus mencari upaya agar barang yang menjadi miliknya tidak dirampas begitu saja oleh anak lain, dan sebaliknya. Bagaimana aturan permainan harus dibuat agar pertengkaran dapat dihindari. Melalui bermain ia akan belajar berkomunikasi dengan sesama teman, baik dalam hal mengemukakan pikiran, pendapat, perasaannya, maupun memahami apa yang disampaikan oleh teman sehingga hubungan dapat terbina dan anak-anak saling bertukar informasi.

7. Manfaat bermain dalam perkembangan emosi dan kepribadian anak usia dini.

Bermain merupakan suatu kegiatan yang sudah ada dengan sendirinya pada diri anak dan menjadi kebutuhan mereka. Melalui bermain anak dapat melepaskan ketegangan-ketegangan yang dialaminya karena banyaknya larangan yang harus ia hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sekaligus ia dapat memenuhi kebutuhan dan dorongan dari dalam diri yang tidak mungkin terpuaskan dalam kehidupan nyata sehingga setidaknya akan membuat anak merasa lega serta rileks.

Dari kegiatan bermain bersama teman maka ia dapat menilai dirinya sendiri. Apa yang menjadi kelebihannya sehingga dapat membantu pembentukan konsep diri yang positf, yaitu mempunyai rasa percaya diri dan harga diri. Anak akan belajar bagaimana harus bersikap dan bertingkah lagu agar dapat bekerja sama dengan orang lain, bersikap jujur, murah hati, dan tulus.

Demikian ayah-bunda tentang 7 manfaat bermain untuk anak usia dini kita, semoga artikel ini bermanfaat untuk kita memahami tentang pentingnya manfaat bermain ini bagi anak. terimakasih. Wassalam.

PENGERTIAN PENGEMBANGAN KOGNITIF ATAU INTELEKTUAL

PAUD-Anakbermainbelajar----Jika kita melihat dari peristilahan yang sering ditukar-pakaikan maka pada dasarnya istilah intelektual adalah sama pengertiannya dengan istilah kognitif. Pada pembahasan berikutnya kedua istilah tersebut akan digunakan secara bergantian sesuai dengan konteks kalimatnya dan pendapat para ahli yang mendefinisikan tentang hal tersebut.

Kognitif berhubunguan dengan intelegensi. Kongnitif lebih bersifat pasif atau statis yang merupakan potensi atau daya untuk memahami sesuatu, sedangkan intelegensi lebih bersifat aktif yang merupakan aktualisasi atau perwujudan dari daya atau potensi tersebut yang berupa aktivitas atau perilaku.

Potensi kognitif ditentukan pada saat konsepsi, (pembuahan) namun terwujud atau tidaknya potensi kognitif tergantung dari lingkungan dan kesempatan yang diberikan. Potensi kognitif yang dibawa sejak lahir atau merupakan faktor keturunan yang akan menentukan batas perkembangan tingkat intelegensi (batas maksimal).

Kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang mencirikan seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide dan belajar.

Beberapa ahli psikologi yang berkecipung dalam bidang pendidikan mendefinisikan intelektual atau kognitif dengan berbagai peristilahan. Seperti berikut ini;
  1. Terman mendefinisikan bahwa kognitif adalah kemampuan untuk berpikir secara abstrak
  2. Colvin mendefinisikan bahwa kognitif adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
  3. Henman mendefinisikan bahwa kognitif adalah intelektual ditambah dengan pengetahuan.
  4. Hunt mendefinisikan bahwa kognitif adalah teknik untuk memperoses informasi yang disediakan oleh indra.

Pamela Minet mendefinisikan bahwa perkembangan intelektual adalah sama dengan perkembangan mental, sedangkan perkembangan kognitif adalah perkembangan pikiran. Pikiran adalah bagian dari proses berpikir dari otak. Pikiran yang digunakan untuk mengenali, memberi alasan rasional, mengatasi dan memahami kesempatan penting.

Sementara itu yang dimaksud dengan intelek adalah berpikir, sedangkan yang dimaksud dengan intelegensi ialah kemampuan kecerdasan. Pada dasarnya kedua istilah itu mempunyai arti yang sama, sebernarnya perbedaannya hanya terletak pada waktunya saja. Didalam kata berpikir terkandung perbuatan menimbang-nimbang, menguraikan, menghubung-hubungkan, sampai akhirnya mengambil keputusan; sedangkan dalam kata kecerdasan terkandung kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah dengan cepat (Lubis, 1986).

Garner dalam Munandar (2000), mengemukakan bahwa pengertian intelegensi sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk menciptakana karya yang dihargai dalam suatu kebudayaan atau lebih. Lebih lanjut Garner mengajukan konsep pluralistik dari intelegensi dan membedakan delapan jenis intelegensi. Dalam kehidupan sehari-hari, intelegensi itu tidak berfungsi dalam bentuk murni, tetapi setiap individu memiliki campuran (blend) yang unik dari sejumlah intelegensi, yaitu intelegensi linguistik, logis, spasial, musik, kinestetik, intrapribadi dan antarpribadi dan naturalistik.

Demikian tentang pengertian kognitif atau intelektual ini, semoga bermanfaat. Terimakasih.

Sumber: dirangkum dari berbagai sumber!

Referensi:
Lubis, Zulkifli. (1999). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja rosda Karya. 
Munandar Utami, (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Garamedia Widiasarana Indonesia.

Cari Tulisan