PRINSIP UMUM DALAM PEMBELAJARAN PAUD TERPADU

Pendidikan anak usia dini yang diterapkan dalam pembelajaran PAUD terpadu didasarkan atas prinsip-prinsip yang umum tetapi sangat penting sebagai berikut :

1. Berorietasi pada kebutuhan anak
Pada dasarnya  setiap anak memiliki kebutuhan dasar yang sama, seperti kebutuhan fisik, rasa aman, dihargai, tidak dibeda-bedakan, bersosialisasi, dan kebutuhan diakui. Karena itu hak anak dapat menjadi acuan utama dalam memenuhi kebutuhan anak.

2. Sesuai dengan perkembangan anak
Setiap usia mempunyai tugas perkembangan yang berbeda-beda, misalnya pada usia 4 bulan pada umumnya anak bisa bisa tengkurap, usia 6 bulan bisa duduk, 10 tahun bisa berdiri, dan 1 tahun bisa berjalan. Pada dasarnya semua anak memiliki pola perkembangan yang dapat diramalkan, misalnya anak akan bisa berjalan setelah bisa berdiri.

3. Sesuai dengan keunikan setiap individu
Anak merupakan individu yang unik, masing-masing mempunyai gaya belajar yang berbeda. Anak yang lebih mudah belajarnya dengan menggunakan (auditori), ada yang dengan melihat (visual) dan ada yang harus dengan bergerak (kinestetik). Anak juga memiliki minat yang berbeda-beda terhadap alat/bahan yang dipelajari/dipergunakan, juga mempunyai temperamen yang berbeda, bahasa yang berbeda, cara merespon lingkungan, serta kebiasaan yang berbeda.

4. Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain
Pembelajaran dilakukan dengan cara menyenangkan. Melalui bermain anak belajar tenang : konsep-konsep matematika, sains , seni dan kreitivitas , bahasa, sosial , dan lain-lain. Selama bermain, anak mendapatkan pengalaman untuk mengembangkan aspek-aspek atau niali-nilai moral, fisik/motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, dan seni.

5. Anak belajar dari konkrit ke abstrak, dari yang sederhana ke yang kompleks, dari gerakan ke verbal, dan dari diri sendiri ke sosial. Ini meliputi hal-hal sebagai berikut:
  • Anak belajar mulai dari hal-hal yang paling konkrit yang dapat dirasakan oleh inderanya (dilihat, diraba, dicium, dicecap, didengar) ke hal-hal yang bersifat imajinasi.
  • Anak belajar dari konsep yang paling sederhana ke konsep yang lebih rumit, misalnya mula-mula anak memahami apel sebagai buah kesukaannya, kemudian anak memahami apel sebagai buah yang berguna untuk kesehatannya.
  • Kemampuan komunikasi anak dimulai dengan menggunakan bahasa tubuhnya lalu dikembangkan dengan menggunakan bahasa lisan.
  • Anak memahami lingkungannya dimulai dari hal-hal yang terkait dengan dirinya sendiri, kemudian ke lingkungan dan orang-orang yang paling dekat dengan dirinya, sampai kepada lingkungan yang lebih luas.
6. Anak sebagai pembelajar aktif
Dalam proses pembelajaran, anak anak merupakan subjek atau pelaku kegiatan dan pendidik merupakan fasilitator. anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar, mempunyai banyak ide, dan tidak berdiam diri dalam jangka waktu lama.

7. Anak belajar melalui interaksi sosial
Pembelajaran anak melalui interaksi sosial baik dengan orang dewasa maupun  dengan teman sebaya yang ada dilingkungannya. Salah satu cara anak belajar adalah dengan cara mengamati, meniru, dan melakukan. Orang dewasa dan teman-teman yang dekat dengan kehidupan anak merupakan obyek yang diamati dan ditiru anak, Melalui cara ini anak belajar cara bersikap, berkomunikasi, berempati, menghargai, atau pengetahuan dan keterampilan.

8. Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar
Lingkungan merupakan sumber belajar yang sangat bermanfaat bagi anak. Lingkungan berupa lingkungan fisik adalah bagian dari penataan ruangan, penataan alat main, benda-benda perubahan benda (daun muda - daun tua, daun kering, dst), cara kerja benda (bola didorong akan menggelinding, sedangkan kubus didorong akan menggeser, dst), dan lingkungan non fisik berupa kebiasaan orang-orang sekitar, suasana belajar (keramahan pendidik, pendidik yang bersiap membantu. dst)

9. Merangsang munculnya kreativitas dan inovatif.
Pada dasarnya setiap anak memiliki potensi kreativitas yang sangat tinggi. Ketika anak diberi kesempatan untuk menggunakan berbagi bahan dalam kegiatan permainannya, maka anak akan dapat belajar tentang berbagai sifat dari bahan-bahan tersebut.

10. Mengembangkan kecakapan hidup anak.
Kecakapan hidup meruapakn suatu ktrampilan yang perlu dimiliki anak melalaui pengembangan karakter. Karakter yang baik dapat dikembangkan dan dipupuk sehingga menjadi modal bagi masa depannya kelak. Kecakapan hidup di-arahkan untuk membantu anak menjadi mandiri, tekun, bekerja keras, disiplin, jujur, percaya diri, dan mampu membangun hubungan dengan orang lain. Kecakapan hidup merupakan keterampilan dasar yang berguna bagi kehidupannya kelak. Ini akan sangat menunjang seseorang agar kelak dapat menjadi orang yang berhasil.

11. Menggunakan berbagai sumber dan media belajar yang ada di lingkungan sekitar.
Sumber dan media belajar untuk PAUD tidak terbatas pada alat dan media hasil pabrikan, tetapi dapat menggunakan berbagai bahan dan alat yang tersedia dilingkungan sepanjang tidak berbahaya bagi kesehatan anak. Air, tanah lempung, pasir, batu-batuan, kerang, daun-daunan, ranting, karton, botol-botol bekas, perca kain, baju bekas, sepatu bekas, dan banyak benda lainnya dapat dijadikan sebagai media belajar untuk mengenalkan banyak konsep; matematika, sains, sosial, bahasa, dan seni.   

12. Anak belajar sesuai dengan kondisi sosial budayanya
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan wahana anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang berakar pada sosial budaya yang berlaku di lingkungan Pendidik mengenalkan budaya, kesenian, permainan, anak, baju daerah menjadi bagian dari setting dan pembelajaran baik secara regular maupun melalui event tertentu

13. Melibatkan peran serta orang tua yang bekerja sama dengan para pendidik di lembaga PAUD
orang tua menjadi sumber informasi mengenai kebiasaan, kegemaran, ketidaksukaan anak, dan lain-lain yang digunakan pendidik dalam penyusunan program pembelajaran. Orangtua juga dilibatkan dalam memberikan keberlangsungan pendidikan anak di rumah.

14. Stimulasi pendidikan bersifat menyeluruh yang mencakup semua aspek perkembangan
Saat anak melakukan sesuatu, sesungguhnya ia sedang mengembangkan berbagai aspek perkembangan/kecerdasan. Sebagai contoh saat anak makan, ia mengembangkan kemampuan bahasa (kosa kata tentang nama bahan makanan, jenis makanan, dan sebagainya), gerakan motorik halus (memegang sendok, membawa makanan kemulut), kemampuan kognitif (membedakan jumlah makanan yang banyak dan sedikit). kemampuan sosial emosional (duduk dengan tepat saling berbagi, saling menghargai keinginan teman), dan aspek moral(berdoa sebelum dan setelah makan).

Demikian prinsip-prinsip umum pendidikan anak usia dini yang diterapkan dalam pembelajaran PAUD terpadu di lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD). Semoga bermanfaat, terimakasih.


Sumber: Bahan diklat TOT Pendidik PAUD Direktorat Jenderal  tahun 2012.

MENGEMBANGKAN KEAKSARAAN YANG SESUAI DENGAN RITME ANAK

Dunia anak adalah dunia bermain. Anak yang berlajar sambil bermain dengan bimbingan orang tua atau orang dewasa yang dikenalkannya akan menunjukan antusiasme belajar. Sebaliknya, anak yang memperoleh pembelajaran keaksaraan yang melebihi kapasitasnya akan mengalami ketegangan penurunan semangat belajar.

Inilah sebuah kenyataan tentang belajar keaksaraan pada anak usia dini. Di satu sisi, secara teoritis, anak tidak boleh dipaksakan untuk belajar keaksaraan. Sementara di sisi lain, balajar keaksaraan identik dengan memenuhi harapan orang tua untuk memberikan paspor bagi anak sebelum memasuki tahun-tahun pertama pengalaman belajarnya pada lingkup pendidikan dasar.

Pandangan tentang tidak boleh memaksakan anak usia dini belajar keaksaraan seperti layaknya anak yang lebih tua usianya dapat dilihat pada dokumen Pusat Kurikulum Balitbang (2007). Dokumen ini mengungkapkan bahwa wacana yang dipergunakan untuk keaksaraan bagi anak usia dini satu bukan membaca dan menulis, akan tetapi pra-membaca, contohnya mulai menunjukan ketertarikan dengan buku/media cetak lainnya (pra-membaca). Hal ini ditandai dengan mengeksplorasi buku atau media cetak lainnya yang memiliki gambar dan warna yang menarik. Meskipun demikian, masih harus didiskusikan apakah tindakan anak usia dini memasukan buku ke dalam mulut atau memukul-mukul merupakan indikator pra-membaca atau semata-mata naluri anak tersebut. Pada usia 1-2 diperoleh gambaran sebagai berikut:

Untuk anak usia 1-2 tahun jauh lebih dapat dipahami, seperti mulai tertarik isi buku dan media cetak lainnya dengan cara menanyakan atau pura-pura menulis. Selanjutnya dapat dilihat pula standar untuk usia 2-3 tahun:

Seperti halnya membaca untuk anak usia 1-2 tahun diwacanakan pra-membaca, Demikian pula menulis dikenal dengan pramenulis dan indikator keduanya antara lain meminta tolong kepada orang dewasa untuk menuliskan cerita gambar yang dibuatnya serta menghasilkan garis-garis dengan alat tulis. Masalah, asumsi permikiran tersebut ditujukan pada masyarakat yang melek baca tulis namun belum mempertimbangkan latar belakang komunitas yang sama sekali orang tua dan belum bisa membaca dan menulis.

Berikut standar untuk anak usai 3-4 tahun diperoleh gambaran sebagai berikut :

Dari semua tahapan yang ditetapkan, kosa kata yang dipergunakan sekali lagu bukan membaca dan menulis, akan tetapi pramembaca dan pramenulis; walaupun terdapat perbedaan yang mendasar antar konsep keaksaraan seperti yang ditetapkan oleh Pusat Kurikulum dengan pengamatan ahli bahasa di negara yang sudah maju.

Pada umumnya masyarakat awam menganggap cukup bila anak diberikan pengetahuan yang berhubungan dengan baca tulis hitung pada awal perkembangan kehidupannya. Anggapan seperti ini membuat anak tidak memiliki perkembangan diri yang seimbang, atau secara teoris diberikan beban yang berlebih pada otak kiri dan tidak lagi diberikan perhatian pad otak kanannnya, bahkan keduanya tidak berjalan secara seimbang. Sehubungan dengan itu Gardener menganggap keseimbangan itu dalam satu kesatuan utuh, berimbang dan proporsional sesuai kecakapan intelektual.

Kenyataannya pada anak jika pembelajaran lebih banyak mengikuti ambisi orang tua dari pada memasuki dunia anak dan ritme yang ada pada anak sendiri akan merupakan hambatan tersendiri dalam pengembangan kemampuan seseorang. Resiko yang sama juga terjadi bila kebiasaan dipaksakan untuk mengikuti bahasa tutur dan mengabaikan kemampuan untuk membaca bahasa tulisan.

Menurut teorinya, pengetahuan dan kecakapan kebahasaan merupakan bagian utama dalam kecakapan intelektual karena fungsi yang strategis dalam komunikasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan sistemik antara kemampuan berbahasa dengan kemampuan berkompetisi dari anak tersebut (Natioan Research Council, 1998). Hampir semua permasalahan dalam kehidupan membutuhkan kemampuan komunikasi dan menjadi persyaratan utama dalam kehidupan modern untuk berekspresi dan bahkan survive dalam kehidupan.

Shonkoff (2000) menekankan kembali bahwa anak dilahirkan ke dunia dibekali dengan kemampuan untuk belajar. Pada lima tahun pertama, pertumbuhan mereka luar biasa terutama dalam kemampuan linguistik, konseptual, sosial, emosional, dan kompetensi motoriknya. Sejaka masa kelahiran seorang anak yang sehat tumbuh menjadi seorang partisipant yang aktif, dibekali dengan kemampuan jelajah lingkungan, belajar untuk berkomunikasi dan setelah sedikit mengikuti pertumbuhannya berkembang dengan kemampuan mengkonstruk ide dan teori tentang benda dan lingkungan sekitarnya.

Oleh Karena itu perlu kiranya dilakukan stimulus yang responsif terhadap perkembangan keaksaraan anak, untuk mengembangkan kemampuan keaksaraan anak sesuai dengan tahapan dan tumbuh kembangnya. Mengembangkan keaksaraan seharusnya dilakukan dengan memperhatikan faktor kemampuan bawaan anak sejak lahir, agar pertumbuhan anak semakin luar biasa, terutama pada lima tahun pertama.

Sumber: Dirangkum dan disarikan dari berbagai sumber!!

ANEKA RESEP DAN CARA MEMBUAT BAHAN MAIN PAUD

Berikut ini adalah resep-resep untuk membuat bahan main yang dapat digunakan di PAUD dan Taman kanak-kanak.:

1. Playdough

Bahan:
Tepung terigu 1 kg
Garam halus 250 gram
Air 600 ml atau 1 botol aqua sedang
Pewarna kue dengan warna dasar (merah, biru, kuning).
Minyak goreng 2 sendok makan. 

Cara membuatnya:
Terigu dan garam dimasukan ke dalam baskom plastik diaduk sampai rata.
Masukan pewarna kue ke dalam botol air
Masukan air ke dalam baskom berisi campuran tepung dan garam aduk sampai rata dan kalis
Masukan minyak goreng aduk lagi sampai rata.


2. Ublek

Bahan:
Tepung sagu 500 gram
Pewarna kue warna dasar (merah, biru, kuning).
Air 3 gelas
Nampan lebar plastik berwarna bening.

Cara membuatnya:
Masukan tepung ke dalam nampan (nampan plastik)
Tambahkan air dingin kira-kira setinggi 1 cm di atas permukaan tepung.
Campurkan warna secukupnya dan aduk hingga merata.


3. Cat Jari

Bahan:
Tepung maizena setengah gelas.
Air dingin 2 gelas
Pewarna kue warna dasar (merah, biru, kuning) secukupnya
Sabun cair 1 sendok makan

Cara membuatnya:
Masukan maizena dan air ke dalam panci
Masak di atas api kecil, aduk sampai kental
Angkat  dan masukan ke dalam mangkok-mangkok kecil.
Tambahkan sabun cair dan pewarna dengan warna tertentu pada salah satu mangkok dan warna bebeda pada mangkok lainnya (untuk menghasilkan warna-warna berbeda: kuning, merah, biru.
Aduk dan biarkan sampai dingin sebelum digunakan.
Simpan dalam wadah tertutup rapat agar awet.



4. Tanah Liat (sangat dianjurkan)

Bahan:
Tanah liat/lempung
Air bersih

Cara membuatnya:
Bersihkan tanah liat dari kotoran, pasir, dan batuan dengan cara menyaring  tanah liat
Jika tanah terlalu kering, tambahkan air secukupnya.
Tumbuk/giling hingga lumat, pekat dan halus
Kemas dalam wadah tertutup rapat atau bungkus dengan plastik kedap udara.



5. Cat Air dari Sabun Cair

Bahan:
Sabun cair 1 sendok makan
Pewarna kue warna dasar (merah, biru, kuning) secukupnya
Air 1/2 gelas.

Cara membuat
Larutkan tepung kedalam gelas air dan aduk hingga menyatu.
Bagi kedalam 3 wadah dan masing-masing bubuhi warna dengan warna berbeda secukupnya.
Aduk hingga rata.


6. Cat Air dari Tepung Terigu 

Bahan
Tepung tapioka/kanji 1 sendok teh
air 1 gelas
Pewarna kue warna dasar (merah, biru, kuning)

Cara membuatnya:
Larutkan tepung ke dalam gelas dan air dan aduk hingga larut menyatu 
Bagi kedalam 3 wadah dan masing-masing bubuhi warna dengan warna berbeda secukupnya. 
Boleh juga dipanaskan dulu sebelum dipakai.
Jika terlalu kental tambahkan air hingga encer dan tidak lengket.

 

7. Biji-bijian 

Bahan
Biji-bijian keras seperti biji asem,jagung,kacang merah, dll.
Pewarna (jika diperlukan ).

Cara membuat
Bersihkan biji-bijian dari kotoran dan jamur.
Keringkan hingga kering benar (kadar air <5% )
Untuk biji-bijian bewarna terang  bisa dikasih warna agar menarik (jika diperlukan )
Kemas dalam toples dengan tutup rapat. 



8. Batu-batuan

Bahan:
Batu alam seukuran jempol kaki
Cat non-toksit (tidak beracun) dengan warna terang.

Cara membuatnya:
Cuci batu hingga bersih dan keringkan
Pilah batu berdasarkan klasifikasi warna dan ukuran
Batu alam dengan warna menarik, biarkan sesuai warna aslinya.
Batu alam tertentu bisa diwarnai/dicat dengan warna tertentu agar menarik
Tempatkan batu di toples atau wadah terbuka agar menarik.
 

ENSIKLOPEDIA KAMUS KATA ISTILAH PAUD PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Kumpulan kata, Istilah, ensiklopedia, yang sering digunakan dalam kegiatan program  Pendidikan Anak Usia Dini PAUD:
APK PAUD; APE; PAUD; BCCT; PIJAKAN; HOLISTIK; INTEGRASI; SENTRA; KB; TK;  TPA; RA; PAUD-TPQ; Taman Pendidikan Al-Qur'an. TAAM; Taman Asuh Anak Muslim. BAMBIM; Bina Anak Muslim Berbasis Masjid. METODE; BALOK; PUZZLE; MAIN; GOLDEN AGE; BUNDA PAUD;  PARENTING; KARAKTER; BERBASIS ALAM; PAUD TERPADU; KEAKSARAAN ANAK; BABY SITTER; FOUNDATION CLASS; FIELD TRIP; HOME ACTIVITIES; KKG; EKSPLORASI; COOKING CLASS; PTK PAUD;  EVLUASI; ANEKDOT; CEKLIS; OBSERVASI; UNJUK KERJA; KOGNITIF; FISIKOMOTORIK; METODE MONTESSORI;
 RKT; Rencana Kegiatan Tahunan. RKB; Rencana Kegiatan Bulanan. RKM: Rencana Kegiatan Mingguan. RKH; Rencana Kegiatan Harian. PLAYDOUGH; UBLEK

Kumpulan kata, Istilah, ensiklopedia, yang sering digunakan dalam kegiatan program  Pendidikan Anak Usia Dini PAUD: 
apk paud; ape; paud; bcct; pijakan; holistik; integrasi; sentra; kb; tk;  tpa; ra; paud-tpq; taman pendidikan al-qur'an. taam; taman asuh anak muslim. bambim; bina anak muslim berbasis masjid. metode; balok; puzzle; main; golden age; bunda paud;  parenting; karakter; berbasis alam; paud terpadu; keaksaraan anak; baby sitter; foundation class; field trip; home activities; kkg; eksplorasi; cooking class; ptk paud;  evluasi; anekdot; ceklis; observasi; unjuk kerja; kognitif; fisikomotorik; metode montessori; rkt; rencana kegiatan tahunan. rkb; rencana kegiatan bulanan. rkm: rencana kegiatan mingguan. rkh; rencana kegiatan harian. playdough; ublek

CARA MENGENALKAN UANG PADA ANAK USIA DINI

Ada dua pendapat tentang kapan sebaiknya mengenalkan uang pada anak. yaitu pendapat yang menyatakan anak tidak boleh diberikan uang sejak dini, dan sebaliknya ada orang tua yang ingin sesegera mungkin memberikan dan mengenalkan uang tersebut pada anak. Alasan kedua pendapat tersebut adalah :

Pandangan yang pertama, Banyak orang tua berpikir bahwa tidaklah perlu untuk terburu-buru memperkenalkan uang kepada si kecil dikarenakan kekuatiran akan pengaruh negatif dari uang, jika terlalu dini anak diberikan uang maka anak dapat menjadi manja, boros dan sering jajan sembarangan, ini tentunya berdampak pada perilaku anak ke depannya, sehingga bagi mereka cukuplah memberi makanan dan bekal untuk dimakan anak di sekolah.

Pandang yang Kedua, anak sangat perlu diberikan uang dan kepercayaan untuk mengelola keuangan mereka sendiri sejak dini, karena tidak ada pelajaran tentang mengelola uang, maka secara alami anak harus belajar tentang uang dari orang tua. Itulah mengapa penting untuk mengenalkan uang serta mengajarkan si kecil tentang menggunakan uang dengan baik sejak usia dini. Tapi tentu saja pengenalan dan pelajaran yang kita berikan harus disesuaikan dengan usia serta dilakukan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Pastikan penggunaan uang yang kita kenalkan dan kita ajarkan adalah hal-hal yang terjadi dalam kehidupan di lingkungan sehari-hari.

Terlepas dari kedua pandangan tersebut, orang tua sejak awal harus menyadari bahwa uang dan konsep uang bagi anak usia dini adalah hal-hal yang masih bersifat abstrak, anak belum memahami untung rugi secara ekonomis, mereka hanya mengetahui bahwa uang sebagai bentuk permainan untuk mendapatkan permainan lainnya. Uang bagi anak bisa jadi menyenangkan ketika dapat memenuhi keinginannya, dan uang bisa jadi menyebalkan ketika mereka mendapat cemooh atau amarah dari orang tuanya. Karena itu orang tua yang ingin memberikan anaknya uang perlu berkomitmen dengan dirinya sendiri dan dengan anak, bahwa uang harus jadi bagian penting untuk menciptakan harmonisasi keluarga, uang dapat mendukung kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga untuk menjadi lebih baik. Berikan pengetahuan pada anak bahwa tanpa uang mereka tidak bisa hidup dengan layak, pakaian, baju, sepatu dan bisa sekolah karena ayah atau ibu bersusah payah bekerja keras untuk mendapatkan uang.

   
Jadi secara substansial kepada anak usia dini memang perlu diperkenal fungsi dan kegunaan uang dengan positif. Anak diperkenalkan fungsi utama uang berupa unsur-unsur positif yang memberikan kebaikan bagi kehidupan disekitarnya, baik untuk anak sendiri maupun untuk kehidupan masyarakat di lingkungannya. Misalnya anak diajarkan bahwa dengan uang ia bisa beramal dan berbuat baik bagi orang lain, dengan uang anak bisa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dunia dan akhirat untuk dirinya sendiri dan orang lain.

So....gimana menurut ayah-ibu dan bunda di PAUD, kira-kira perlukah anak usia dini diberikan uang saat sekolah?

PENTINGNYA PENYELENGGARAAN PAUD HOLISTIK-INTEGRATIF

Tantangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang sangat penting yang kita hadapi saat ini pada dasarnya adalah bagaimana kita bisa memperluas dan meningkatkan layanan PAUD yang memenuhi standar pelayanan minimal dengan mewujudkan 3 (tiga) tujuan utama PAUD, yaitu: Pertama, untuk mengembangkan potensi kecerdasan, kebugaran dan kreativitas anak. Yang dimaksudkan dengan kecerdasan di sini adalah kecerdasan komprehensif yang meliputi Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), Kecerdasan Sosial, Kecerdasan Spritual (SQ), dan Kecerdasan Estetika. Kedua, untuk mempersiapkan anak agar siap mengikuti pendidikkan di Sekolah Dasar dan jenjang pendidikan berikutnya. dan Ketiga, untuk menurunkan angka putus sekolah di SD maupun di jenjang pendidikan berikutnya.  

Berdasarkan pemikiran di atas berbagai kebijakan pengembangan PAUD terus ditingkatkan oleh Pemerintah Indonesia hingga hari ini. Kementerian Pendidikan Nasional telah menetapkan PAUD sebagai salah satu fokus utama pembangunan pendidikan Indonesia 5 (lima) tahun ke depan dan memiliki rencana strategis untuk memperluas akses dan meningkatkan mutu layanan PAUD melalui upaya penerapan pendekatan PAUD Holistik-Integratif.

PAUD Holistik-Integratif, yaitu PAUD yang tidak hanya menekankan aspek pendidikan semata, akan tetapi mencakup juga aspek gizi, kesehatan, pengasuhan, dan perlindungan anak. Layanan PAUD Holistik-Integratif ditujukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak usia dini secara utuh meliputi kesehatan dan gizi, pendidikan, dan pengasuhan sesuai segmentasi umur, serta untuk melindungi anak dari perlakuan yang salah, baik pada tataran keluarga maupun lingkungan, Layanan tersebut diselenggarakan secara terintegrasi dan selaras antar lembaga pelayanan terkait, sesuai kondisi wilayah.

Sumber : Disarikan dan dirangkum dari berbagai sumber !!

ANAK PAUD HARUS MAKAN SARAPAN DI RUMAH

Sentra Masakan Paud RBS
Ananda yang pinter....Sarapan pagi itu penting karena dapat membantu kekuatan tubuh supaya siap ketika menghadapi aktivitas kamu seharian. Demikian pesan orang tua yang telah memahami pentingnya sarapan dan makan pagi untuk anaknya.

Sebagai bahan pemikiran dan perbandingan kita, Sebuah studi yang dilakukan di Jepang menemukan bahwa para murid yang selalu makan pagi dengan teratur dan bergizi, memperlihatkan hasil tes dan ujiannya cenderung mendapat nilai tinggi. Pemerintah jepang, khususnya Departemen Pendidikannya sangat serius menangani tentang pendidikan anak usia dini ini. hal-hal dasar seperti kebiasaan makan ini dalam proses perkembangan anak benar-benar diatur untuk membantu anak tumbuh dan berkembang dengan prestasi baik.

Mengapa sarapan pagi itu penting?
 
Secara logika, sarapan dan makan pagi hari itu sebenarnya seperti berbuka puasa satu hari penuh, setelah beberapa waktu sejak makan malam hingga pagi dengan perut kosong. Pada saat kita bangun di pagi hari, semua energi kita sudah habis, sehingga tubuh kita perlu untuk mendapatkan charger mengisi energi yang baru untuk melalui rutinitas sehari-hari.

Anak PAUD yang tidak makan atau melewatkan sarapan rutin, berisiko tinggi mengembangkan gastroenteritis dan beberapa masalah kesehatan lainnya. Tidak hanya itu, anak yang harus menghadapi banyak tantangan di sekolah dengan perut yang kosong mungkin bisa menghambat proses perkembangan mereka.

Beberapa penelitian tentang kesehatan anak mengungkapkan bahwa anak yang tidak sarapan sebelum ke sekolah memiliki masalah seperti, sakit kepala, mengantuk, sakit perut, kelelahan, Ketidaktegasan, mudah marah, kecemasan, iritabilitas, kurang bahagia, gugup, lesu, dll. beberapa masalah lain yang dapat dilihat pada siswa yang melewatkan sarapan mereka. Masalah fisik dan psikologis seperti memiliki kemampuan untuk menghambat proses belajar anak.

Pada Lembaga-lambaga PAUD tertentu, terutama yang termasuk Lembaga PAUD "Pinggiran" masalah jajan pada anak, menjadi persoalan tersendiri yang dapat mengganggu proses pendidikan, pembelajaran dan perkembangan anak di PAUD, anak yang suka jajan sebenarnya terjadi karena salah satu faktornya anak tidak terbiasa makan dan sarapan di rumah. Banyak jajanan yang kurang sehat dan tidak terjamin kebersihaannya, sehingga memicu timbulnya berbagai penyakit pada anak.

Karena itu...bunda... ajak anak Sarapan Yuk..!!

Cari Tulisan