INILAH MAKNA KESENYAPAN DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN PAUD

Bunda--Tidak selamanya kegiatan pembelajaran untuk Anak PAUD itu Berkarakteristik kegaduhan, untuk mendukung belajar anak, guru terkadang tidak harus berteriak-bersuara nyaring memberi instruksi pada anak. Guru pendidik PAUD perlu juga hemat energi. Ibarat hembusan angin kadang bertiup kencang, kadang lembut dan sepoi-sepoi membelai dengan lembut, ada irama dan rima dinamis yang penuh dengan ornamen yang menarik bagi anak usia dini. Sunyi dan hening itu indah kata sebagian orang, dalam kesunyian dan kesenyapan kita dapat mengajarkan anak-anak nilai-nilai kehangatan dan penghargaan yang sangat baik untuk perkembangan dalam proses belajar dan bermain anak didik. 

Secara umum, dalam makna sederhana, kesenyapan merupakan salah satu cara untuk mendukung anak-anak belajar. Saat-saat tenang dapat menjadi suatu strategi mengajar yang efektif terutama ketika anak-anak sedang asik melakukan kegiatan yang disukainya. Terkadang pendidik PAUD tidak perlu bersuara, memberikan komentar, karena akan mengganggu konsentrasi anak. Dalam situasi tertentu kadang-kadang banyak guru yang menjawab pertanyaan sendiri, atau cepat mengalihkan pertanyaan dari anak yang satu kepada anak yang lainnya, ketika anak yang diberi pertanyaan itu agak lama memberikan jawaban. Anak-anak pada umumnya memerlukan waktu paling cepat 3-5 detik untuk memproses apa yang akan dikatakan dan untuk merumuskan sebuah jawaban. Dengan demikian sebaiknya guru memberikan waktu kepada anak-anak untuk merumuskan jawabannya. ini merupakan penggunaan kesenyapan yang efektif. Kesenyapan merupakan suatu tanda kehangatan dan penghargaan yang ditujukan guru terhadap anak. Saat kesenyapan berjalan maka jiwa anak bergerak untuk melangkah maju dengan berani dan tabah. Mengekplorasi melalui indranya yang lain, sehingga anak dapat belajar Deepthinkking, dalam memahami eksistensinya sebagai manusia. Anak belajar dari dirinya dan lingkungannya secara lebih mendalam.

Demikian Bunda tentang kesenyapan dalam kegiatan pembelajar PAUD, semoga bermanfaat, kalo masih ada yang kurang, mohon dikoreksi dan diberikan masukan, terimakasih. Wassalam. 

DONGENG ANAK : THE UGLY DUNCKLING

Dongeng binatang, dongeng lucu, dongeng anak angsa, dongeng cerita
The Ugly Duckling   (English)

Once upon a time down on an old farm, lived a duck family, and Mother Duck had been sitting on a clutch of new eggs. One day, the eggs hatched and out popped six chirpy ducklings. But one egg was bigger than the others, and it didn't hatch. Mother Duck couldn't remember laying that seventh egg. “How did it get there?” Mother Duck wondered. TOCK! TOCK! The little prisoner was pecking inside his shell.

"Did I count the eggs wrongly?" Mother Duck wondered. But before she had time to think about it, the last egg finally hatched and a strange looking duckling with gray feathers that should have been yellow gazed at a worried mother. The ducklings grew quickly, but Mother Duck had a secret worry.

"I can't understand how this ugly duckling can be one of mine!" she said to herself. She shook her head as she looked at her last born duckling. Well, the gray duckling certainly wasn't pretty. He also ate much more than his brothers and growing faster than them. As the days went by, the poor ugly duckling became more and more unhappy. His brothers didn't want to play with him because he was so clumsy, and all the farmyard folks simply laughed at him. He felt sad and lonely, while Mother Duck did her best to console him. "Poor little ugly duckling!" she would say. "Why are you so different from the others?" And the ugly duckling felt worse than ever. He secretly wept at night. He felt nobody wanted him. "Nobody loves me, they all tease me! Why am I different from my brothers?"Then one day, at sunrise, the poor ugly duckling ran away from the farmyard. He stopped at a pond and began to question all the other birds. "Do you know of any ducklings with gray feathers like mine?" But everyone shook their heads in scorn. "We don't know anyone as ugly as you." The ugly duckling did not lose heart, however, and kept on making inquiries. He went to another pond, where a pair of large geese gave him the same answer to his question. What's more, they warned him: "Don't stay here! Go away! It's dangerous. There are men with guns around here!" The duckling was sorry he had ever left the farmyard.

Then one day, the poor ugly duckling arrived at an old countrywoman's cottage. Thinking he was a stray goose, she caught him. "I'll put this in a hutch. I hope it's a female and lays plenty of eggs!" said the old woman, whose eyesight was poor. But of course, the ugly duckling did not lay a single egg. The hen kept frightening him. "Just wait! If you don't lay eggs, the old woman will wring your neck and pop you into the pot!" And the cat chipped in: "Hee! Hee! I hope the woman cooks you, then I can gnaw at your bones!" The poor ugly duckling was so scared that he lost his appetite, though the old woman kept stuffing him with food and grumbling: "If you won't lay eggs, at least hurry up and get plump!"

"Oh, dear me!" moaned the now terrified duckling. "I'll die of fright first! And I did so hope someone would love me!"

Then one night, the old woman left the hutch door ajar, and the poor ugly duckling escaped. Once again he was all alone. He fled as far away as he could, and at dawn, he found himself in a thick bed of reeds. "If nobody wants me, I'll hide here forever." There was plenty of food there, and the poor ugly duckling began to feel a little happier, even though he was lonely. One day at sunrise, he saw a group of beautiful birds flying overhead. White, with long slender necks, yellow beaks and large wings, they were migrating south.

"If only I could look like them, just for a day!" said the duckling, admiringly. Winter came and the water in the reed bed froze. The poor duckling left home to seek food in the snow. He dropped exhausted to the ground, but a farmer found him and put him in his big jacket pocket. "I'll take him home to my children. They'll look after him. Poor thing, he's frozen!" The duckling was showered with kindly care at the farmer's house. In this way, the ugly duckling was able to survive the bitterly cold winter.

However, by springtime, he had grown so big that the farmer decided: "I'll set him free by the pond!" That was when the duckling saw himself mirrored in the water. "Goodness! How I've changed! I hardly recognize myself!" The flight of swans winged north again and glided on to the pond. When the duckling saw them, he realized that he was one of their kind and they made friends.

"We're swans like you!" they said, warmly. "Where have you been hiding?"

"It's a long story," replied the young swan, still astounded. Now, he swam majestically with his fellow swans. One day, he heard children on the river bank exclaim: "Look at that young swan! He's the finest of them all!"

And he almost burst with happiness.

* * *


The Ugly Duckling (Versi Bahasa Indonesia)

Pada suatu musim panas yang indah di pedesaan, seekor Ibu Itik sedang menunggu telur-telurnya menetas. Induk itik sedang mengerami telur-telurnya. Telur-telur itu menetas dan anak-anak itik keluar satu persatu, tapi seekor anak itik berbeda dengan anak itik lainnya. Rupanya buruk sekali. Saudara-saudaranya tidak menyukai anak itik itu. Mereka sering menertawai dan menggigitnya. Anak itik buruk rupa itupun menjauh.

Ketika anak itik yang buruk rupa itu bangun keesokan harinya, ternyata beberapa ekor itik liar sedang mengerumuninya. Itik-itik itu memperingatkan, “Kamu sangat jelek. Jangan mendekati kami.”

Anak itik buruk rupa itu pergi dan bertemu seekor anjing besar. Anjing itu menatap itik buruk rupa, sehingga membuatnya sangat ketakutan. Ia pikir anjing besar itu akan memakannya, tapi anjing besar itu menggelengkan kepala dan pergi. Anak itik buruk rupa berkata, “Aku jelek sekali sampai-sampai anjing besar itu tidak ingin memakanku.”

Hari sudah gelap. Anak itik buruk rupa itu tiba disebuah rumah. Ia kelelahan dan tertidur di depan pintu rumah itu. Keesokan harinya pagi-pagi sekali, seorang perempuan tua membuka pintu. Ia menemukan anak itik itu dan menyuruhnya masuk. Ada seekor ayam betina dan seekor kucing di dalam rumah itu, namun mereka juga tidak menyukai Anak itik buruk rupa itu. Maka anak itik buruk rupa itupun pergi.

Musim gugur tiba. Suatu hari, Anak itik buruk rupa tiba disebuah sungai. Ia melihat beberapa ekor burung putih besar sedang terbang menyeberangi sungai. Burung-burung itu adalah angsa. Mereka sangat cantik. Anak itik buruk rupa itu merasa sangat iri pada mereka.

Musim dingin tiba. Cuaca menjadi semakin bertambah dingin. Sungai membeku. Terjadi sesuatu, Anak itik buruk rupa itu terjebak es di sungai.

Seorang petani menemukan anak itik buruk rupa itu. Dipecahkannya es yang menjebak anak itik itu dan ia membawa anak itik itu pulang. Anak-anak petani itu ingin bermain dengan Anak itik buruk rupa, tapi Anak itik buruk rupa berpikir mereka akan melukainya. Maka Anak itik buruk rupa itupun terbang pergi.

Musim semi tiba. Anak itik buruk rupa itu mendatangi sungai lagi. Ia melihat para angsa yang cantik sedang berenang di sungai. Ia mendatangi mereka dan berkata, “Bunuhlah aku! Aku tidak ingin hidup. Aku terlalu jelek. Aku sama sekali tidak bahagia.” Para angsa itu berkata padanya, “Kamu tidak jelek. Kamu adalah seekor angsa yang cantik.“
“Tidak, kalian menipu aku!” jerit Anak itik buruk rupa itu. “Lihatlah kedalam air. Kamu cantik sekali, sampai-sampai kami tidak bisa menyaingi kamu!” kata para angsa itu.

Anak itik buruk rupa itu melihat kedalam air. Ternyata ia telah berubah menjadi seekor angsa yang cantik. Dan suatu hari, ia mendengar suara anak-anak kecil di tepi sungai berkata, “Lihatlah angsa muda itu! Ia yang terbagus dari semuanya!” Ia pun merasa senang dan bahagia sejak saat itu.

* * *

Sumber:
Dongeng diceritakan juga dalam situs-web antara lain:
http://akucreative.blogspot.com/2010/11/12-ugly-duckling-anak-itik-yang-buruk.html
http://dongengberbahasainggris.blogspot.com/2012/06/ugly-duckling.html
http://gudangnyacerita.blogspot.com/2009/10/ugly-duckling_26.html
http://cerpendandongeng.blogspot.com/2012/06/ugly-duckling.html
http://dongeng-tales.blogspot.com/2010/03/ugly-duckling.html
http://www.thecrowdvoice.com/post/the-ugly-duckling-44677078.html

KUMPULAN LAGU-LAGU ANAK PAUD CAMPURAN SEMUA TEMA

Musik PAUD Rumah Belajar Senyum
Tema         : Lingkunganku
Sub Tema : Sekolah
Indikator  : Menyanyikan 20 lagu anak-anak

Tas Baru

Lihatlah..lihatlah 
Tas ku yang baru

Tempat aku menyimpan
Pensil dan buku

Lihatlah..lihatlah 
Tas ku yang baru

Tempat aku menyimpan
Pensil dan buku

CERITA DONGENG ANAK - THE UGLY DUCKLING

Cerita dongeng untuk anak dengan judul The Ugly Duckling, yang menceritakan seekor anak bebek beserta induk dan keluarganya.,, Dongeng anak, ..Baca dongeng anak, dongeng PAUD yang sangat asik untuk dibaca bersama anak-anak PAUD. Beragam dongeng cerita anak di Intenet, dongeng lucu, cerita lucu utuk anak. Mendongeng bersama anak-anak paud, dongeng mengasikan, dongeng menarik, cerita lucu, cerita binatang, cerita anak dan binatang lucu, dongeng tentang binatang, dongeng sebelum tidur, dongeng pengantar tidur. yang sangat lucu.

Ikuti dongeng - cerita menarik dari internet, dongeng lucu anak PAUD, cerita kisah dongeng tentang binatang dari hutan.

Baca selengkapnya di dongeng anak !!

INILAH ALASAN MENGAPA LINGKUNGAN BELAJAR ANAK HARUS BAIK

anak stress, lingkungan belajar anak stress
Sesuai dengan pandangan Janice Beaty (1995), Lingkungan belajar anak harus terbebas dari hal-hal yang membuat anak menjadi stres. Tidak hanya kondisi lingkungan yang mendukung dan tenang, juga kegiatan harus benar-benar mendukung anak dalam belajar. misalnya: Anak dipaksa menulis dengan meniru tulisan yang sudah disediakan oleh guru, bagi anak yang kesiapan motoriknya belum optimal ia akan merasa setres apalagi kalau melihat hasil pekerjaan temannya yang lebih bagus dan guru membanding-bandingkannya, hingga menimbulkan rasa iri dan rendah diri pada diri anak. 

Ketika belajar seorang anak juga melakukan interaksi dengna lingkungan belajarnya. Lingkungan belajar bukan hanya lingkungan fisik tetapi lingkungan sosial. Contoh lingkungan fisik: lingkungan sekitar, area belajar, media dan sumber belajar dan lain-lain. Lingkungan sosial meliputi: guru, anak-anak lainnya, orang dewasa. Dari hasil interaksi antara anak dengan lingkungan belajar maka akan menimbulkan pengalaman belajar yang mempengaruhi ketiga aspek pekembangan anak. 

Seyogyanya untuk melatih menulis di usia dini, guru-pendidik harus menyesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan anak saat ini. misalnya anak dapat diminta menulis hal-hal yang ringan dan pendek seperti namanya sendiri sesuai kemampuannya. Dalam proses selanjutnya, secara bertahap anak akan mampu menulis dengan baik, apabila diciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan anak senang belajar manusia dan mencoba menulis kata demi kata atau kalimat demi kalimat yang menarik baginya. Selain lingkungan belajar yang menyenangkan agaknya dalam menyediakan dan mengkondisikan lingkungan belajar anak usia dini, perlu pula diperhatikan faktor keselamatan anak.

Demikianlah bunda alasan mengapa lingkungan belajar anak harus baik, terhindar dari calistung yang sangat membebani anak hingga membuat anak stress. Semoga Artikel sederhana ini bermanfaat. Terimakasih.

CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE WITH - DOROTHY LOW NOLTE

Setiap Anak Belajar Dari Lingkungan Di Mana Ia Tinggal :

“Children Learn What They Live With”
(Dorothy Low Nolte)

Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan
Jika anak banyak dimusuhi, ia akan terbiasa menantang
Jika anak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas
Jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasibnya
Jika anak dikelilingi olok-olok, ia akan terbiasa menjadi pemalu
Jika anak dikitari rasa iri, ia akan terbiasa merasa bersalah.

Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar
Jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percaya diri
Jika anak banyak dipuji, ia akan terbiasa menghargai
Jika anak diterima oleh lingkungannya, ia akan terbiasa menyayangi
Jika anak diperlakukan dengan jujur, dia akan terbiasa melihat kebenaran
Jika anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan terbiasa melihat keadilan
Jika anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian:

Sungguh Indah Dunia Ini!”


BERCERITA DI PAUD DENGAN ALAT VISUALIZER

Teknologi yang terus berkembang, agaknya perlu juga diikuti oleh lembaga-lembaga PAUD untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran yang menarik dan bermutu. Salah satu contohnya adalah meningkatkan kreativitas dan kemampuan anak dalam bercerita dengan memanfaatkan alat visualizer, seperti yang dilakukan salah satu lembaga PAUD di Banjarmasin bekerja sama dengan Balai Teknologi dan Informasi setempat, yang telah mengembangkan media pembelajaran berbasis TIK yang dapat dipergunakan oleh Anak-anak usia dini, dengan mengekspresikan dan bercerita tentang imajinasi yang mereka buat, baik dalam bentuk gambar, tulisan atau coretan-coretan ringan yang mereka buat. 



Media ini nantinya selain dapat dipegunakan oleh anak-anak dalam berekspresi dan bercerita, juga dapat dipergunakan oleh guru pendidik untuk memberikan presentasi, mengajarkan materi atau mendukung ilustrasi dan background dalam mendongeng untuk anak-anak dilembaga PAUD tersebut. Dalam pengembangannya sebagai media pembelajaran visualizer ini dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan tertentu. Pemanfaatannya pun dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas yang aktif dan komunikatif di lembaga PAUD kita.



So...bunda..siapa yang mau mempraktikan alat visualizer di lembaga PAUDnya...anak-anak pasti senang sekali. !

DESKRIPSI PROSES SOSIALISASI DAN PENGARUHNYA PADA PENGASUHAN ANAK

Pengertian

Setiap keluarga mempunyai pola pengasuhan yang berbeda-beda dalam rangka proses sosialisasi antara orang tua dan anak atau sebaliknya. Coba kita perhatikan gambar atau perhatikan di lingkungan keluarga di sekitar kita, bagaimana orangtua anda mengasuh putra-putrinya! Pola pengasuhan di setiap keluarga sudah dimulai dari sejak bayi dalam kandungan atau sejak manusia dilahirkan. Pola pengasuhan tidak terlepas dari pengaruh budaya orangtua. Kebiasaan-kebiasaan yang selalu ditanamkan dalam keluarga itu biasanya merupakan pewarisan nilai budaya dari generasi satu ke generasi berikutnya. Hal ini bertujuan agar anggota keluarga atau anggota suatu kelompok dalam masyarakat dapat bersikap dan berperilaku sesuai dengan kebiasaan yang dianut oleh generasi sebelumnya.

Penanaman atau proses belajar tentang kebiasaan-kebiasaan yang terdapat dalam suatu kelompok atau masyarakat disebut sosialisasi. Artinya, sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau pengalihan kebiasaan, aturan, atau nilai-nilai dari satu generasi ke generasi lainnya dalam suatu kelompok atau masyarakat. Pengertian lain menyatakan bahwa sosialisasi adalan proses belajar mengenai pola-pola tindakan interaksi dalam masyarakat sesuai dengan peranan masing-masing individu. Dalam proses sosialisasi, individu mengetahui  dan menjalankan hak dan kewajibannya berdasarkan perannya. Proses sosialisasi pada umumnya ditentukan oleh kebudayaan suatu masyarakat.

Dengan demikian, sosialisasi bertujuan untuk :
a. Memberikan keterampilan kepada seseorang agar dapat hidup bermasyarakat
b. Mengembangkan kemampuan seseorang agar dapat berkomunikasi secara efektif
c. Membuat seseorang mampu mengembalikan fungsi-fungsi organik melalui latihan intropeksi yang tepat
d. Menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan kepada seseorang yang mempunyai tugas pokok dalam masyarakat. 

Bagaimana orang tua kita mendidik kita tentang cara menghormati mereka? mungkin orangtua kita mencontoh nenek atau kakek pada saat mendidik orang tua kita dulu.

Cara pengasuhan anak akan mempengaruhi kepribadian anak itu pada masa-masa kemudian. Cara pengasuhan anak berbeda-beda antara suku bangsa yang satu dengan suku bangsa yang lain. 

Perhatikan contoh cara pengasuhan Anak di daerah-daerah Nusantara ini;

1. Pengasuhan Anak Masyarakat Minangkabau

Kita ambil contoh masyarakat Minangkabau dalam cara pengasuhan anak. Masyarakat Minangkabau jaman dulu mempunyai tradisi bahwa anak laki-laki tidur di rumah sejak usia tujuh sampai delapan tahun. Mereka tidur di Surau atau di Langgar tempat mereka mengaji. Setelah sholat Maghrib, mereka mengaji Al-Qur'an sampai menjelang Isya kemudian dilanjutkan sholat Isya. Sesudah sholat Isya, mereka belajar adat-istiadat dan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh setiap orang.

Selain itu, mereka juga belajar bela diri silat menjelang tengah malam. Dari contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa pola pengasuhan anak keluarga Minangkabau adalah dari lahir sampai umur tujuh tahun sepenuhnya diasuh oleh ibu. Setelah usia itu mereka juga belajar mengaji dan ilmu, serta adat istiadat di Surau atau langgar selain tentunya mereka bersekolah.

Untuk membuka wawasan kita mengenai cara pengasuhan anak masyarakat tradisional di Indonesia, di bawah ini dapat kita cermati bagaimana cara mengasuh anak di masyarakat Jawa.

2. Pengasuhan anak masyarakat Jawa

Dikalangan masyarakat jawa dikenal istilah mendhem jero, mikul dhuwur, artinya setiap anak dididik agar selalu berbakti kepada orangtua dan membawa nama baik orangtua serta semua keluarga. Pola pengasuhan anak dimulai dari lima tahun pertama, orangtua memperlakukan anak sebagai layaknya seorang putra raja. Setelah itu, mereka dilatih untuk membantu tugas-tugas pekerjaan di rumah. Usia 16 tahun ke atas diperlakukan sebagai teman. Keteladanan orang tua adalah sebagai anutan sang anak, sesuai dengan petuah ing arsa asung tulada. Petuah itu mempunyai arti orangtua harus memberikan teladan. Inti dari pendidikan anak yang telah dewasa adalah rendah hati, ramah tamah, sopan, hormat kepada yang lebih tua. Selain itu, masyarakat Jawa menekankan pada anak untuk selalu hidup prihatin. Hidup prihatin berarti membiasakan hidup tidak bermewah-mewah, belajar atau bekerja keras dan selalu disiplin. Hidup selalu berwatak sosial, tolong menolong kepada sesama dengan tulus ikhlas.

Masyarakat lain tentunya mempunyai pola pengasuhan anak yang berbeda-beda sesuai dengan budaya masyarakat itu. Meskipun berbeda, pada dasarnya pola pengasuhan atau proses sosialisasi ini merupakan wadah pembentukan watak, kepribadian, dan budi pekerti yang diharapkan dapat membentuk anak berprilaku sesuai dengan norma atau nilai yang dianut oleh masyarakat setempat.

Cara pengasuhan anak pada masyarakat tertentu kadangkala diungkapkan dengan memakai upacara adat. Misalnya, upacara adat masyarakat Jawa seperti selamatan selapanan, selamatan sunatan, tedak siten, dan sebagainya. Upacara adat itu mempunyai makna masing-masing, yang intinya merupakan ungkapan bahwa semua perencanaan, tindakan dan perbuatan diatur oleh budaya.

Demikian deskripsi proses sosialisasi dan pengaruhnya pada pengasuhan anak, semoga bermanfaat, terimakasih.

Sumber: disarikan dari berbagai sumber!!
  

7 KUNCI KEBERHASILAN LEMBAGA PAUD UNGGULAN

Paud Unggul, Paud Percontohan_Paud aktiv, Paud RBS, Paud Banjarmasin

Dari tolak ukur sederhana, sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang baik, setidaknya memiliki peran untuk menggali, berpartisipasi, dan mengembangkan bakat dan kemampuan anak sedini mungkin. Ini dapat juga dilakukan dengan program bimbingan dan fasilitas yang disesuaikan dengan usia perkembangan anak. Lembaga PAUD diharapkan memiliki visi untuk menumbuhkan serta mengembangkan potensi anak melalui program dan kegiatan bermain sambil belajar. Sebab bagi anak usia dini, bermain adalah jembatan untuk berkembangnya seluruh kecerdasan anak. Terutama karena usia nol hingga enam tahun merupakan masa emas (golden age) untuk pengasahan potensi anak.

Sebagai sebuah PAUD unggulan sebuah lembaga PAUD dapat memiliki 7 kunci (7K) untuk mendapatkan keberhasilan kerja timnya. Kuncinya adalah :
1. Komitmen
2. Komunikasi
3. Keterbukaan
4. Kerjasama
5. Kerjakeras
6. Kekeluargaan, dan
7. Keikhlasan.

Ketujuh pakem tersebut dapat mendukung sebuah lembaga PAUD hingga menjadi sebuah lembaga unggulan, jika semua komponen dan sumberdaya didalamnya berpegang dengan kukuh terhadap 7 tujuh Kunci tersebut. 

Salah satu contoh aplikasi dari elemen 7K itu adalah menjalankan program visiting class (kelas berkunjung) bagi orang tua. Dalam kegiatan ini, orang tua akan dilibatkan dengan mengambil bagian dalam proses belajar mengajar di sentra bersama guru dan anak-anak. Pilihan waktu pelaksanaannya disesuaikan dengan kesediaan waktu setiap orang tua.


Dengan demikian, orang tua yang mengikuti proses bermain di sentra ini akan memberikan input terhadap pelaksanaan kegiatan. Apakah masukan itu dari jenis kegiatan, hingga cara mengajar gurur. Di mana masukan tersebut akan menjadi saran maupun kritik bagi sebuah lembaga PAUD.



Contoh lainnya, kunci untuk Lembaga PAUD dalam memenuhi unsur kekeluargaan dan keikhlasan, sekolah melakukan kegiatan sosial dalam pendidikan. Untuk menjangkau masyarakat sekitar yang kurang mampu, sekolah berperan serta melalui Pos PAUD yang dibentuk bersama-sama. Tujuannya agar anak usia dini yang tergabung dalam Pos PAUD juga dapat merasakan stimulasi yang lebih intensif, Sehingga kemampuan dan potensi anak dapat terasah dengan baik.


Sumber; Warta PAUDNI 

PAUD-TK DENGAN GREEN EDUCATION


PAUD dan TK dengan Green Education (Pendidikan kembali Ke alam hijau). Konsep dasar dari pemikiran ini adalah Kembali ke alam hijau bukan semata-mata domain orang dewasa yang jenuh akan kerusakan lingkungan. anak-anakpun sebaiknya sudah diakrabkan dengan alam sejak dini. Hal ini dapat menjadi landasan PAUD dan Taman Kanak-kanak untuk mengembangkan dan mengusung konsep green education (pendidikan alam) dalam program pembelajarannya.

Dalam PAUD Green Education, Sebuah lembaga PAUD dapat memanfaatkan alam terbuka yang masih asri di lingkungan sekitarnya untuk kegiatan bermain sambil belajar. Anak-anak dapat bermain di tengah alam untuk bisa mencintai alam sekitarnya. Salah satu tujuannya adalah membuat anak didik akrab dengan alam. 

Kegiatan yang dapat dilakukan berkaitan dengan pengolahan lingkungan alam tersebut, antara lain anak dapat diajak menanam tanaman, menebar benih tanaman, menjaga tanaman, memanen, membersihkan alam dan lingkungan dari kotoran sampah yang merusak keindahan kelestarian alam. 

Dengan kegiatan pembelajaran ini anak dapat belajar bertanggung jawab terhadap tanaman yang ditanamnya sendiri. Merekapun akan belajar mandiri dan jujur dalam merawat tanaman tersebut. Dengan demikian, anak-anak dididik untuk memiliki sifat kepemimpinan dan kerjasama tim. Lebih jauh lagi hal ini akan membentuk karakter yang baik bagi anak.

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) UNTUK SI ANAK KAYA?

Tahun ajaran baru telah tiba, pendaftaran Pendidikan anak usia dini (PAUD) telah dibuka lagi. Semua lembaga PAUD telah mempersiapkan diri untuk menyambut calon anak didik baru dengan aneka program kegiatan yang menarik, mulai dari pembelajaran hingga studi tournya. Awalnya sekolah ini cukup dimulai dari taman kanak-kanak-langsung masuk sekolah dasar. Namun, seiring dengan perkembangan Zaman, sekolah tidak lagi diawali hanya dari taman kanak-kanak. Apa yang disebut sebagai pendidikan anak usia dini atau lebih dikenal dengan Playgroup (kelompok bermain), semakin lama semakin memperlihatkan eksistensinya dalam dunia pendidikan kita.

Hal Positif dari perkembangan ini adalah terlihatnya antusias masyarakat yang semakin sadar arti pentingnya pendidikan anak sejak usia dini. Karena dalam pendidikan anak usia dini inilah, anak-anak mulai dibelajarkan mengenai dunia di luar lingkungannya. Pendidikan anak usia dini mana yang lebih baik akan merupakan pilihan dan telah membuktikan bahwa orangtua juga akan semakin "aware' terhadap pentingnya persiapan dalam menghadapi masa depan yang penuh dengan persaingan.

Karena itu, mereka (para orangtua) berlomba-lomba memilih PAUD yang terbaik untuk memberikan bekal pendidikan yang cukup bagi anak-anaknya. Hal ini tentu saja dilakukan dengan harapan agar anak-anak tersebut kelak memiliki kesiapan diri yang lebih matang dalam memasuki tingkat pendidikan selanjutnya. Asumsinya, mereka mengambil start lebih awal dibandingkan anak-anak lainnya yang tidak sempat mengenyam pendidikan pada tingkat pendidikan anak usia dini.

Sayang, kesadaran arti pentingnya pendidikan anak usia dini itu belum dirasakan sebagian keluarga yang memiliki anak usia dini dari golongan tidak mampu, mengingat mahalnya biaya yang harus dikeluarkan oleh para orang tua untuk memasukan anaknya pada sekolah-sekolah PAUD tertentu.

Karena itu, tidaklah salah kalau banyak masyarakat kita yang beranggapan pendidikan anak usia dini selalu identik dengan anak-anak dari kalangan ekonomi menengah ke atas saja (Kaya). Hal ini semakin memperkuat pernyataan bahwa dunia pendidikan saat ini hanya diperuntukan bagi mereka yang mampu dan berasal dari golongan berada atau yang ekonominya berada pada kelas menengah ke atas.

Mereka yang tidak mampu cukuplah bermimpi untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak-anak orang yang berada di tingkat ekonomi tinggi. Akhirnya, pendidikan anak usia dini yang mulanya bertujuan mempersiapkan pendidikan anak sejak usia dini telah dipandang sebagai suatu institusi yang tidak lebih dari tempat berkumpulnya anak-anak orang kaya. Yaitu, anak-anak yang orangtuanya cukup sibuk dengan urusan-urusan duniawi sehingga rela mengeluarkan sejumlah uang agar anak-anak mereka berada di tempat yang aman. 

Selain itu, tentunya PAUD juga memberikan suatu hal yang bermanfaat bagi anak anak-anak itu sendiri. Pendidikan anak usia dini merupakan suatu "cermin" mengenai banyaknya orangtua yang belum memahami kebutuhan utama anak-anaknya. 

Mereka berpendapat bahwa pendidikan anak dini usia adalah suatu hal yang dapat menggantikan peran orangtua ketika mereka sibuk bekerja. Namun demikian bagaimanapun juga orantua tetap harus berperan terhadap pendidikan anak-anaknya.

Karena orangtua merupakan faktor yang sangat signifikan terhadap perkembangan pendidikan bagi anak-anaknya. Dengan demikian orangtua adalah orang yang sangat bepengaruh pada perkembangan anak-anaknya. Ditangan orang tualah anak akan mengalami sebagian besar perubahan dan penanaman sikap dan karakternya. Anak sikaya ataupun si miskin akan berkembang baik jika orang tuanya memberikan pendidikan yang sebaik-baiknya meskipun itu tidak harus mahal biayanya.