INILAH ALASAN KEGIATAN MENASIK HAJI PENTING UNTUK PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) !

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim[215]; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali Imron:97)* * *
Dalam pendidikan Agama Islam sejak usia dini, perlu dikenalkan rukun-rukun Islam kepada anak. Tujuan mengenalkan rukun Islam yang kelima, Yaitu Berhaji. Ini dilakukan agar anak-anak usia dini di lembaga-lembaga PAUD mengenal dan memahami dengan baik ajaran Tauhidnya.


Coba kita lihat anak-anak kita dengan memakai kain ihram yang terlihat putih-putih mereka sangat antusias ikut kegiatan manasik haji, mereka belajar, mengenal dan melaksanakan rukun-rukun haji bersama pembimbing manasik haji dan para guru Pendidik PAUDnya.

Dalam kegiatan pengenalan manasik haji ini, anak-anak dibimbing dengan sabar dalam menjalankan semuah tahapan berhaji. Mulai dari kegiatan thawaf, sai, melempar jumrah dan tahalul, ini semua dilakukan anak-anak PAUD secara sederhana tapi khidmad. 

Haji_PAUD, kegiatan PAUD, Kegiatan Agama, PAUD Islami



Indah nian, semoga keindahan ini menjadi kado untuk anak, yang dapat menjadi bahan bagi pengembangan nilai sosial, moral dan agama, untuk menjadi bekal iman dan takwa bagi anak hingga mereka dewasa. Semoga mereka dapat menjadi haji yang Mambrur ketika mereka melaksanakan ibadah haji yang sesungguhnya kelak...Amiin..

“Dan haji mabrur itu tiada balasan bagi-nya melainkan Surga” (Al Hadits).



Lihat Gambar dan Foto Manasik Haji anak PAUD yang lucu-lucu lainnya di sini !!

DASAR HUKUM PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) DILAKSANAKAN PKBM

PKBM ALFALAH BANJARMASIN
PAUD DIPKBM ALFALAH BANJARMASIN
Masih ada sebagian masyarakat yang mempertanyakan keabsahan program PAUD yang dilaksanakan di Pusat-pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau PKBM, karena memang status PKBM sebagai satuan pendidikan demikian juga dengan PAUD sebagai satuan pendidikan. Berikut ini adalah dasar hukumnya bahwa PKBM itu boleh melaksanakan Program PAUD.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 26 ayat (4) pusat kegiatan belajar masyarakat dinyatakan sebagai satuan pendidikan nonformal. Selanjutnya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 pasal 105 ayat (2) dinyatakan bahwa salah satu program yang dapat diselenggarakan oleh PKBM adalah pendidikan anak usia dini. Hal tersebut ditegaskan lagi dalam Peraturan Mendikbud Nomor 81 Tahun 2013 tentang Pendirian Satuan Pendidikan Nonformal pasal 4 ayat (4) bahwa PKBM yang didirikan dapat menyelenggarakan di antaranya adalah program pendidikan anak usia dini.

Ketika Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat menyelenggarakan Kelompok Bermain, Tempat Penitipan Anak atau Satuan PAUD sejenis, maka PKBM dipandang sebagai satuan pendidikan nonformal maka  Kelompok Bermain, Tempat Penitipan Anak atau Satuan PAUD sejenis merupakan program. Artinya sebagai program pendidikan anak usia dini yang berada dalam satuan pendidikan nonformal (PKBM).

Hal tersebut ditegaskan dalam Permendikbud Nomor 84 Tahun 2014 tentang Pendirian Satuan PAUD. Dalam pasal 19 ayat (1) dinyatakan bahwa KB, TPA, dan/atau SPS sebagai program pendidikan nonformal dapat diselenggarakan oleh satuan pendidikan nonformal dalam bentuk pusat kegiatan belajar masyarakat, majelis taklim, atau satuan pendidikan nonformal sejenis, dengan terlebih dahulu mengajukan izin penyelenggaraan program.

Dengan demikian tidak ada hukum bagi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat untuk mengajukan izin penyelenggaraan program pendidikan anak usia dini. Sudah barang tentu izin penyelenggaraan program tersebut harus sesuai dengan ketentuan Permendikbud Nomor 84 Tahun 2014.


Sumber: http://fauziep.com/ini-dasar-hukum-pkbm-boleh-menyelenggarakan-program-paud/

NAK JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA ?

Pengalaman saya ketika mengajar anak-anak SMA dan Mahasiswa, ternyata banyak siswa/Warga Belajar dan mahasiswa yang melakukan kecurangan. Ketika mereka membuat tugas dan menyontek ulangan, terjadi hal-hal yang menyimpang dari pendidikan karakter yang telah kita bangun sejak anak-anak ini masih dini usia. Saya kepikiran inikah hasil pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti yang kita laksanakan sejak usia dini?,. Kenyataannya masih berlanjut dan berkembang dusta dan kebohongan untuk mencapai tujuan yang dengan hasil maksimal tapi semu. 

Siswa dan Mahasiswa berusaha membohongi (ngibulin) kita dengan tugas-tugas hasil contekan dan kopas asal-asalan, tentu saja modus seperti ini sering ketahuan, dan mereka bertanya-tanya kok bapak tahu??. tentu saja tahu, karena ini telah menjadi "kenangan terindah" sejak anak-anak ini masih kanak-kanak. dan saya memahami jiwa anak-anak ini masih selalu ada dihati mereka...heheh... kira-kira seperti inilah mereka semasa masih kanak-kanak, hingga terbawa sampai mereka jadi siswa dan mahasiswa.



Dan kemungkinan komunikasi yang terjadi semasa di tangan orang tuanya sebagai berikut: 

Orang tua:  Hadoh biyuuung. Siapa yang corat-coret?
Anak:         Emm … bukan aku. Dia (sambil nunjuk si doggsy)
Doggsy :    sambil mendelik: guk-guk (aje gile busyet, teganya kau pada ku mas bro).....;)

Tentu saja bagi orang tua akan gampang mengetahui kejadiannya. Sementara bagi sang anak, heran banget. Bagaimana orang tua saya kok tahu ya? Kira-kira yang mirip seperti inilah terjadi antara siswa dengan saya sekarang. 

Jadi anak ku sejak kalian kecil ..jangan ada dusta di antara kita ya..!! 

So...  gimana pendapat bunda ???


Sumber Gambar : Google

MAU ANAK PINTAR, SEHAT DAN KUAT ? KEMBALIKAN ANAK KE ALAM

Setelah kita mempelajari dan menelaah beberapa tulisan dan teori-teori yang bertebaran di banyak buku dan di dunia maya, tentang pendidikan dan perkembangan anak, coba bunda perhatikan gambar-gambar dunia anak di bawah ini, kira-kira bagaimana menurut bunda? :












Bunda...Dalam prosesnya, terkait dengan pendidikan dan perkembangan anak, melibatkan dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar adalah hal yang sangat bermanfaat bagi anak kita, terutama untuk memberikan motivasi belajar, mengarahkan aktivitas belajar, memperkaya informasi, meningkatkan hubungan sosial, pengenalan lingkungan, serta menumbuhkan sikap dan penghargaan terhadap lingkungan alam sekitar. 

Bunda...dengan mengembalikan anak ke alam dan dengan memanfaatkan alam sekitar dapat menumbuhkan kemampuan anak untuk beradaptasi dan survival terhadap berbagai keadaan. Anak dapat bereksplorasi untuk mempelajari dan menggali sumber-sumber belajar yang tidak akan pernah habis-habisnya. Anak dapat menjelajah sekuat kemampuan fisiknya, sehingga terbentuklah kemampuan yang tergambar dalam 3 ranah domain; Kognitif, afektif dan psikomotorik dari diri anak yang bersangkutan.

So..jadi gimana menurut bunda,? .....perlukah anak kembali ke alam??....


Sumber Gambar: Google, Facebook dan Koleksian pribadi !

PROGRAM BERMAIN YANG SESUAI DENGAN DUNIA ANAK PAUD

Bunda, Manakah diantara program kegiatan bermain berikut ini yang paling sesuai dengan aspek-aspek pengembangan anak PAUD ?

1. Bermain Pasir
2. Bermain Air
3. Bermain Balok
4. Bermain Alat Manipulatif
5. Bermain Peran (Mikro/Makro)
6. Bermain Sudut Rumah Tangga
7. Bermain di Perpustakaan (Sudut baca)
8. Bermain di Luar (Halaman)

* * *

 
Anak-anak dimanapun berada, diseluruh dunia bermain. Bagi anak bermain itu alamiah dan spontan, anak-anak tidak diajarkan bermain. Mereka bermain dengan benda apa saja yang ada di sekitarnya dengan bahan tongkat kayu, sapu, ranting, kardus, bahkan dengan tanah, pasir dan lumpur. Benda yang ada dilingkungan sekitar dapat menjadi media  alat bermain yang sangat menarik bagi anak, jika pada saat itu sesuai dengan minat dan perkembangannya. Kadang-kadang anak bermain hingga mereka lupa waktu, lupa akan kelelahannya, mereka ingin terus bermain kalau perlu tidak usah tidur, hingga banyak kita temukan anak-anak tertidur dengan mendekap mainannya. Fros (1992) mengemukakan sebuah pendapat yang melemahkan teori "kelebihan energi" yang mengatakan bahwa bermain hanya untuk mengeluarkan kelebihan energi belaka. Tetapi kemudian, ada kelemahan dari teori ini, yaitu bahwa anak-anak sering ingin terus bermain dan bermain, walaupun sebenarnya mereka telah mendekati kelelahan yang teramat sangat.

Jadi dunia anak memang dunia bermain,  bukan dunia tidur, biarkan anak bermain hingga mereka sendiri menyadari bahwa sudah waktunya tidur.