PERUBAHAN TAMPILAN BLOG ANAK PAUD BERMAIN BELAJAR

Anak PAUD, Blog Anak PAUD, Anak PAUD Bermain Belajar
Tidak terasa tiga tahun lebih sudah blog Anak PAUD Bermain Belajar ikut berpartisipasi dalam blogging di dunia pendidikan khususnya pendidikan anak. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki blog sederhana ini, hal yang terpenting selama menjalankan aktivitas posting blog adalah keinginan admin, penulis untuk berbagi dan turut menyumbang pemikiran untuk mengembangkan pendidikan anak, khusus tentang pendidikan anak usia dini (PAUD). Semula tujuan dibuatnya blog ini hanyalah untuk mendokumentasikan secara pribadi materi bahan dan tulisan yang penulis dapatkan dari kegiatan diklat penataran dan pendidikan PAUD baik di daerah (tingkat lokal/Regional) maupun dipusat (tingkat Nasional), tetapi kemudian ternyata blog banyak dikunjungi oleh rekan-rekan seprofesi dan masyarakat yang berminat tentang pendidikan anak usia dini.   

MENULIS DALAM KEGELAPAN

anak bersedih, kegelapan anak, hak anak
Mohon maaf, judul postingan kali ini mungkin agak berbeda dari gendre yang seharusnya, entah kenapa penulis kepikiran judul ini di bisa dipost diblog yang khusus membahasa tentang anak dan perkembangan anak usia dini ini. Mungkin, karena judulnya terlalu indah dan keren untuk dilewatkan, atau gairahnya yang bisa menghiasi blog sederhana ini. Walaupun dari segi key word sangat kurang mendukung seo blog ini. Tapi untuk kepuasan batin ini sangat mendukung dan patut dicoba.

PENGERTIAN DAN KONSEP DASAR EVALUASI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI DALAM PAUD

Pengertian Evaluasi Perkembangan Anak Usia Dini

Evaluasi merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi di dalam dunia pendidikan. Evaluasi merupakan bagian yang penting dalam pendidikan, hal ini mengingat dengan evaluasi akan dapat mengetahui bagaimana proses pendidikan dilaksanakan, faktor-faktor apa yang menghambat maupun yang mendorong pencapaian tujuan pendidikan, bahkan dengan evaluasi dapat mengetahui tingkat keberhasilan suatu kegiatan pendidikan. 

Evaluasi merupakan prosedur sistematis yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah diatur dengan baik. Karena pelaksanaan evaluasi yang baik akan mendapatkan informasi yang akurat sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

CONTOH BERMAIN KEGIATAN MAIN SENSORIMOTOR SEDERHANA ANAK PAUD

Anak bermain Busa sabun, bermain sensorimotor busa sabun
Anak usia dini memulai mengembangkan kemampuan bermainnya melalui tubuhnya, mereka menggunakan tubuh serta dorongan hatinya untuk mengetahui semua tentang diri mereka. Dengan menggunakan gerakan-gerakan tubuhnya dan penjelajahannya terhadap lingkungan sekitar dengan menggunakan seluruh inderanya. Anak belajar segala sesuatu yang berpengaruh terhadap seluruh kemampuannya. Banyak ahli berkesimpulan bahwa anak adalah makhluk yang aktif dan dinamis. Kebutuhan-kebutuhan jasmaniah dan rohaniahnya anak yang mendasar sebagian besar dipenuhi melalui bermain, baik bermain sendiri maupun bersama-sama dengan teman (kelompok), jadi bermain itu merupakan kebutuhan anak. Kegiatan main sensorimotor merupakan salah satu kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan anak khususnya sebagian besar pada kebutuhan jasmani fisik anak. 

ANAK BELAJAR KONSEP WARNA DAN ANGKA DARI LAGU ANAK : BALONKU

Lagu anak, Balonku, Penjual Balon
Ini kebetulan lagi melihat penjual balon di jalanan, kamera HP Nokia Asha 305 beraksi lagi, mengabadikan macam-macam warna-warni balon, kok.. aku malah jadi kepikiran anak-anak di PAUD bisa Belajar konsep warna dan angka dari balon dan lagu anak-anak: 

Balonku:
"Balonku ada lima
rupa-rupa warnanya
merah kuning kelabu
merah muda dan biru

FUNCTION OF EARLY CHILDHOOD EDUCATION

Program activities play in early childhood education has a number of functions, namely : (1) to develop all the capabilities of the child in accordance with the stage of development, (2) introduce children to the world around, (3) developing the socialization of children, (4) introduce regulations and instill discipline in children, and (5) provide opportunities for children to enjoy playing.


Based on the purpose of early childhood education can be explored some of the functions of early childhood education, namely :

MEMBANGUN KARAKTER ANAK SEJAK USIA DINI MELALUI PROGRAM PARENTING DI LEMBAGA PAUD (PROGRAM PARENTING BEBASIS KARAKTER)

Oleh: Aniyoga Prawoto

Abstract: Parenting as a continuous process of interaction between parents and their children which includes the following activities: feeding (nourishing), provide guidance (guiding), and protect (protecting) the children when they grow. Character Education is an attempt to develop the basics of good character for children such as child aware of his duty, to develop self confidence, giving praise for accomplishments, not to punish but improve the attitude, not ordered but ask for help, cultivation of motal values and religion, good manners, tolerance, mutual respect, self-reliance, and so on. All of them is intended to shape the character of achild who is not only intelligent and skilled, but also moral, have high confidence, can get along and be able to adapt to any conditions and new environment.
Keywords: parenting program, character based

CERITA TENTANG KEBERANIAN UNTUK MEMOTIVASI ANAK PAUD

Ada sebuah contoh menarik bagaimana mendorong dan memotivasi anak dengan kisah dan cerita agar anak menjadi berani dan tidak takut terhadap sesuatu, anak diajarkan untuk tidak cengeng, tetapi penuh semangat untuk bangkit dari jatuh dan kesedihannya.

Kisah ini dimulai disuatu hari di sebuah kelompok Bermain PAUD….

DILEMATIKA MEMBACA, MENULIS, BERHITUNG (CALISTUNG) DI PAUD DAN TK

Calistung PAUD, Anak Belajar Calistung
Lagi-lagi persoalan Membaca, menulis dan berhitung atau biasa disingkat dengan CALISTUNG, sepertinya sudah harus melekat dan tidak bisa lagi dipisahkan dari Pendidikan untuk Anak Usia Dini. Dari tahun ke tahun, masalah yang sama selalu muncul. Juga pertanyaan yang sama selalu ditujukan pada guru, penyelenggara sekolah atau praktisi Pendidikan Anak Usia Dini. Mengapa di sekolah ini anak saya hanya bermain? Kapan belajarnya? Kapan anak saya bisa membaca? Apakah sekolah ini akan menjamin anak saya bisa membaca? Begitulah kira-kira pertanyaan yang selalu muncul hampir di setiap saat. Membaca, menulis dan berhitung, seakan-akan menjadi satu-satunya hal terpenting dalam pendidikan bagi anak usia dini. Menjadi tolok ukur apakah satu lembaga pendidikan anak usia dini diminati orang tua atau tidak. Laris manis atau kekurangan murid.

MENGEMBANGKAN KEGIATAN OUTBOND PAUD YANG BERBASIS ALAM SEKITAR

anak bermain disawah, Outbond PAUD,Program Outbond
Mungkin tidak salah sebuah pendapat yang menyatakan "mau anak pintar, cerdas, berkarkter dan memiliki kemampuan fisik dan motorik yang bagus, kembalilah ke alam. Salah satu pendidikan anak yang bagus adalah mendidik anak melalui alam dan kembali ke alam, anak didik untuk mencintai lingkungan sejak usia dini. Itulah yang akan diperoleh dari kegiatan pendidikan anak PAUD yang berbasis alam. Di lembaga PAUD yang mengembangkan pendidikan anak berbasis alam, anak-anak di ajak bermain khas Outbound dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar, misalnya anak dapat diajak menanam padi, menangkap ikan, memanen buah-sayur, berenang dikali, membuat hiasan pakaian dari daun dan kegiatan lain yang bersentuhan dengan alam sekitar.

TIPS MENGATASI DILEMATIK PERILAKU DAN SIKAP NAKAL ANAK

Dalam mendidik anak, adakalanya kita sebagai orang tua dan pendidik PAUD menghadapi dilema terhadap perilaku negatif dalam mendidik dan membimbing anak-anak kita, berikut beberapa tips untuk mengalihkan anak dari perilaku dan sikap yang berada pada situasi dilematis menjadi konsep yang membangun dan bermanfaat bagi perkembangan anak sebagai berikut :

TUJUAN DAN RUANG LINGKUP PAUD

1. Tujuan PAUD

Pada umumnya tujuan PAUD adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Tujuan PAUD antara lain :

a. Kesiapan anak memasuki pendidikan lebih lanjut
b. Mengurangi anka mengulang sekolah
c. Mengurangi angka putus Sekolah (DO)
d. Mempercepat pencapaian Wajib belajar Pendidikan Dasar 9 tahun
e. Meningkatkan Mutu Pendidikan
f. Mengurangi angka buta huruf muda
g. Memperbaiki derajat kesehatan dan gizi anak usia dini
h. Meningkatkan indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Selain tujuan di atas, menurut UNESCO (2005) tujuan PAUD antara lain berdasarkan beberapa alasan :
a. Alasan Pendidikan;
PAUD merupakan pondasi awal dalam meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan pendidikan lebih tinggi, menurut angka mengulang kelas dan angka putus sekolah.

b. Alasan Ekonomi;
PAUD merupakan investasi yang menguntungkan baik bagi keluarga maupun pemerintah

c. Alasan sosial: 
PAUD merupakan salah satu upaya untuk menghentikan roda kemiskinan

d. Alasan Hak/Hukum;
PAUD merupakan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang dijamin oleh undang-undang.


PAUD juga bertujuan membangun landasan bagi perkembangan potensi anak agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Sedangkan Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia  yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, dan cakap. (Puskur, Depdiknas:2007).

Solehuddin (1997) mengemukakan bahwa pendidikan anak usia dini dimaksudkan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal dan menyeluruh dengan norma dan nilai-nilai kehidupan yang dianut.

Melali PAUD, anak diharapkan dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinaya antara lain: agama, kognitif, sosial emosional, bahasa, motorik kasar dan motorik halus, serta kemandirian; memiliki dasar-dasar aqidah yang lurus sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya, memiliki kebiasaan-kebiasaan perilaku yang diharapkan, menguasai sejumlah pengetahuan dan keterampilan dasar sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangannya, serta memiliki motivasi dan sikap belajar yang positif.

Sejalan dengan pernyataan di atas, tujuan PAUD adalah untuk mengembangkan seluruh potensi anak (the whole child) agar kelak dapat berfungsi sebagai manusia yang utuh sesuai dengan falsafah suatu bangsa. Anak dapat dipandang sebagai individu yang baru mengenal dunia. Ia belum mengetahui tatakrama, sopan santun aturan, norma, etika, dan berbagai hal tentang dunia. Ia juga sedang belajar berkomunikasi dengan orang lain dan belajar memahami orang lain. Anak perlu dibimbing agar mampu memahami berbagai hal tentang dunia dan isinya. Ia juga perlu dibimbing agar memahami berbagai fenomena alam dan dapat melakukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di masyarakat.

2. Ruang Lingkup PAUD

Satuan Layanan PAUD, Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan atau informal.

Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal diselenggarkan pada Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat, rentang usia anak 4-6 tahun. 

Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal diselenggarakan pada kelompok Bermain (KB) tentang usia anak 2 - 4 tahun, Taman Penitipan Anak (TPA) rentang usia anak 3 bulan - 2 tahun, atau bentuk lain yang sederajat (Satuan PAUD Sejenis/SPS) rentang usia anak 4 - 6 tahun.

Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan informal diselenggarakan pada pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, bagi orangtua yang mempunyai anak usia 0 - 6 tahun.


Sumber: Buku seri Bahan Ajar Diklat Berjenjang Tingkat Dasar Dirjen PAUD, Nonformal dan Informal Direktorat PTK PAUD, NonFormal dan Informal Tahin 2013.

CARA BELAJAR MEMBACA DAN MENULIS DENGAN BERMAIN UNTUK ANAK PAUD TK

Membaca Menulis, Belajar anak PAUD, Anak TK
Metode membaca dan menulis yang selama ini dilaksanakan di sebagian besar lembaga PAUD dan TK, masih menggunakan metode lama yaitu mengeja dan mendektekan hurup dan angka. Cara ini sangat tidak sesuai dengan perkembangan anak, bahkan ada sebagian yang berpendapat cara ini menzalimi anak merampas hak-hak anak di usianya yang masih memerlukan kegiatan bermain ini. Karena itu diperlukan cara dan metode belajar untuk anak yang sesuai dengan tahapan usia dan perkembangannya yaitu kegiatan belajar dengan bermain, belajar membaca dan menulis dengan bermain. 

PERMAINAN TRADISIONAL KLASIK BALOGO ANAK BANJARMASIN

Permainan Tradisional, Alat permainan, Permainan Balogo
Ketika penulis kebetulan lewat jalan di salah satu Gang kampung di kota Banjarmasin, ada sesuatu yang menarik perhatian penulis, sekelompok anak yang terlihat asik bermain permainan yang oleh anak-anak setempat disebut permainan "Balogo" dengan alat mainnya disebut "Logo". Dengan kamera HP Nokia Asha 305 yang cuma 2 Mega Pixel yang kebetulan dibawa, penulis coba rekam aktivitas tersebut dalam foto-foto yang sederhana, hemm,,lumayan hasilnya.  

CARA MEMBUAT BONEKA JARI SEDERHANA UNTUK ANAK TK PAUD

Bermain Boneka Jari, Membuat Boneka Jari.
Pengertian boneka adalah tiruan bentuk manusia, bentuk binatang, kartun dll. Jadi sebenarnya boneka merupakan salah satu model perbandingan dengan makhluk hidup yang sesungguhnya. Boneka sudah sejak lama dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dengan cara dimainkan dalam sandiwara-sandiwara boneka. Sejak tahun 1940-an pemakaian boneka sebagai media pendidikan menjadi populer dan banyak digunakan di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan di Amerika. Di Eropa seni pembuatan boneka telah sangat tua dan sangat populer serta lebih tinggi tingkat keahliannya dibandingkan di Amerika. Untuk keperluan sekolah dapat dibuat boneka yang disesuaikan dengan cerita-cerita jaman sekarang. Untuk tiap-tiap daerah pembuatan boneka ini disesuaikan dengan keadaan daerah masing-masing.
Fungsi boneka adalah selain sebagai media pembelajaran,boneka juga sebagai perantara alat komunikasi,menangkap daya pikir anak,mengembangkan daya visualnya serta anak dapat berimajinasi dengan senangnya dia belajar. Boneka jari adalah Boneka yang dibuat dengan bentuk ukuran yang kecil untuk digunakan dengan jari, sesuai dengan namanya boneka ini dimainkan dengan menggunakan jari-jari tangan dengan Kepala boneka diletakkan pada ujung jari kita.

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PERMAINAN ANAK DAN DAMPAKNYA PADA ANAK USIA DINI

Permainan anak PAUD, Tekanologi PAUD, TIK PAUD, Game Anak Usia DiniPerkembangan teknologi informasi dan komputer saat ini berkembang begitu luar biasa. Perkembangan ini sangat membingungkan oleh sebagian masyarakat, mereka menganggap hampir sampai tidak masuk akal. Teknologi komputer sudah mengalami perkembangan sangat pesat pada tahun 1960 -1970an, hingga mencapai tahapan puncak dengan teknologi komputer virtual dan Gatget Androit dengan kecepatan tingkat tinggi di abad millenium ini.

Teknologi komputer dan IT canggih saat ini tidak hanya dikenal oleh orang dewasa saja, anak-anak usia dini pun sudah mulai mengenal teknologi ini. Secara tidak langsung, teknologi komputer yang terus berkembang ini membawa dampak bagi perkembangan anak usia dini. Apapun Dampak positif ataupun negatif yang ditimbulkan adalah konsekuensi karya cipta teknologi baru, tetapi apapun itu pasti kembali lagi pada cara penggunaan dan pemanfaatan teknologi komputer yang dipakai user sendiri dalam hal ini orang tua yang memberikan anak komputer tersebut.

PILAR KARAKTER DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Berikut ini adalah 3 (tiga) pilar karakter utama untuk anak dalam program Pendidikan Anak Usia Dini / PAUD. Tiga pilar ini merupakan pencapaian yang diharapkan bagi pengembangan pendidikan karakter anak usia dini yang dilakukan dilembaga-lembaga PAUD yang meliputi Pilar karakter Kejujuran, Pilar karakter Disiplin, Pilar karakter Percaya diri. Pejabaran dan isi masing-masing Pilar karakter tersebut adalah sebagai berikut :

INILAH LANDASAN FILOSOFIS PAUD LENGKAP BAGIAN 5

Landasan Filosofis Pendidikan Anak Usia dini (PAUD) dapat dilihat dalam pandangan beberapa ahli berikut ini :

1. Pandangan Pestalozzi (1746 - 1827)
2. Pandangan Maria Montessori (1870 - 1952)
3. Pandangan Froebel (1782 - 1852)
4. Pandangan J.J Rousseau (1712 - 1778)
5. Pandangan Jean Piaget (1896 - 1980) dan Lev S Vigotsky (1896 - 1934)
6. Pandangan Ki Hadjar Dewantara (1889 - 1959)


Baca selengkapnya di sini !!


LANDASAN FILOSOFIS PAUD 

5. Pandangan Jean Piaget dan Lev Vigotsky


Pandangan konstruktivis dimotori oleh dua orang ahli psikologi yaitu Jean Piaget dan Lev Vigotsky. Pada dasarnya paham konstruktivis ini mempunyai asumsi bahwa anak adalah pembangun pengetahuan yang aktif. Anak mengkonstruksi/membangun pengetahuannya berdasarkan pengalamannya.

Pengetahuan tersebut diperoleh anak dengan cara membangunnya secara aktif melalui interaksi yang dilakukannya dengan lingkungan.

Menurut paham ini anak bukanlah individu yang bersifat pasif, yang hanya menerima pengetahuannya dari orang lain. Anak adalah makhluk belajar yang aktif yang dapat mengkreasi/mencipta dan membangun pengetahuannya sendiri.

Para ahli konstruktif meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak memahami dunia di sekeliling kita mereka. Pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman sebaya anak, orang dewasa dan lingkungan. Anak membangun pemahaman mereka sendiri terhadap dunia. Mereka memahami apa yang terjadi di sekeliling mereka dengan mensintesa pengalaman-pengalaman baru dengan apa yang telah mereka pahami sebelumnya.

Contoh berikut ini akan membantu Anda untuk memahami pandangan ini. SEorang anak TK yang keluarganya memiliki seekor anjing berjalan-jalan dengan mengendarai mobil bersama keluarganya. Mereka melintasi seekor sapi di suatu lapangan. Anak itu menunjuk dan mengatakan "anjing". Orang tuanya memberitahukan anak tersebut bahwa binatang tersebut bukanlah seekor anjing melainkan sapi dan bahwa sapi berbeda dengan anjing. Informasi yang baru tersebut akan dicerna dengan apa yang telah diketahui dan penyesuaian mental akan terbentuk.

Meskipun anak harus membangun sendiri pemahaman pengetahuan, dan pembelajaran mereka, peran orang dewasa sebagai fasilitator dan mediator sangatlah penting.

Berdasarkan asumsi tadi nampak bahwa pendekatan ini menekankan pada pentingnya keterlibatan anak dalam proses pembelajaran. Untuk itu maka guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, akrab, dan hangat melalui kegiatan bermain maupun berinteraksi dengan lingkungan sehingga dapat merangsang partisipasi aktif dari anak.

Paget dan Vigotsky sama-sama menekankan pada pentingnya aktivitas bermain sebagai sarana untuk pendidikan anak, terutama yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas berfikir. Lebih jauh mereka berpendapat bahwa aktivitas bermain juga dapat menjadi akar bagi perkembangan perilaku moral. Hal itu terjadi ketika dihadapkan pada suatu situasi yang menuntut mereka untuk berempati serta memenuhi aturan dan perannya dalam kehidupan masyarakat.

Interaksi yang dilakukan anak dengan lingkungan sekitarnya, baik itu orang dewasa maupun anak-anak yang lainnya dapat memberikan bekal yang cukup berharga bagi anak, karena dapat membantu mengembangkan kemampuan berbahasa, berkomunikasi serta bersosialisasi, dan yang tidak kalah pentinya adalah melalui interaksi tersebut anak akan belajar memahami perasaan orang, menghargai pendapat mereka, sehingga secara tidak langsung anak juga berlatih mengekspresikan/menunjuk emosinya.

LANDASAN FILOSOFIS PAUD LENGKAP BAGIAN 6  >>

Bag 6

Sumber: Buku Seri Bahan Ajar Diklat Berjenjang Tingkat Dasar Dirjen PAUD Nonformal dan Informal, Direktorat Pembinaan PTK PAUD Nonformal dan Informal, Depdikbud. 2013 

 

LAMBANG DAN LOGO PAUD ARTI DAN MAKNANYA

Lambang, logo atau Simbol secara etimologi adalah berasal dari kata symballo dari bahasa Yunani. Symballo artinya kurang lebih melempar atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau konsep objek yang kelihatan, sehingga objek tersebut mewakili gagasan. Simbol ini dapat menghantarkan seseorang ke dalam gagasan atau konsep masa depan maupun masa lalu. Simbol adalah gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah sesuatu. Meskipun simbol bukanlah nilai itu sendiri, namun simbol sangatlah dibutuhkan untuk kepentingan penghayatan akan nilai-nilai yang diwakilinya. Simbol dapat digunakan untuk keperluan apa saja. diantaranya; ilmu pengetahuan, kehidupan sosial, juga keagamaan dan kepercayaan.

MANFAAT 15 MENIT MEMBACAKAN CERITA DAN DONGENG KEPADA ANAK

Membacakan cerita atau dongeng untuk anak kita memiliki lusinan manfaat yang akan sangat berguna bagi masa depan anak. Ikatan emosional yang terbangun akan memperkuat kecerdasan emosional, dengan cerita yang dihadirkan akan merangsang daya imajinasi anak yang memupuk kreativitas dan ide-ide baru menjadi inovasi yang membawa manfaat bagi orang lain. Bercerita juga bertujuan menanamkan pesan-pesan atau nilai-nilai sosial, moral dan agama yang terkandung dalam cerita tersebut, sehingga anak dapat menghayati dan menjalankan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari.

INILAH LANDASAN FILOSOFIS PAUD LENGKAP BAGIAN 4

Landasan Filosofis Pendidikan Anak Usia dini (PAUD) dapat dilihat dalam pandangan beberapa ahli berikut ini :

1. Pandangan Pestalozzi (1746 - 1827)
2. Pandangan Maria Montessori (1870 - 1952)
3. Pandangan Froebel (1782 - 1852)
4. Pandangan J.J Rousseau (1712 - 1778)
5. Pandangan Jean Piaget (1896 - 1980) dan Lev S Vigotsky (1896 - 1934)
6. Pandangan Ki Hadjar Dewantara (1889 - 1959)



4. Pandangan J.J. Rousseau

Gambar: riomarvillages.com
Jean Jacques Rousseau yang hidup antara tahun 1712 sampai dengan tahun 1778, dilahrikan di Geneva, Swiss, tetapi sebagian besar waktunya dihabiskan di Perancis.

Rousseau menyarankan konsep "kembali ke alam" dan pendekatan yang bersifat alamiah dalam pendidikan anak. Bagi Rousseau pendekatan alamiah berarti anak akan berkembang secara optimal,tanpa hambatan.

Menurutnya pula bahwa pendidikan yang bersifat alamiah menghasilkan dan memacu berkembangnya kualitas semacam kebahagiaan, spontanitas dna rasa ingin tahu. Rousseau percaya bahwa walaupun kita telah melakukan kontrol terhadap pendidikan yang diperoleh dari pengalaman sosial dan melalui indera, tetapi kita tetap tidak dapat mengontrol pertumbuhan yang bersifat alami.

Untuk mengetahui kebutuhan anak, guru harus mempelajari ilmu yang berkaitan dengan anak-anak. Tujuannya adalah agar guru dapat memberikan pelajaran yang sesuai dengan minat anak. Jadi yang menjadi titik pangkal adalah anak. Tujuan pendidikan menurut gagasan Rousseau adalah membentuk anak menjadi manusia yang bebas.

Rousseau memiliki keyakinan bahwa seorang ibu dapat menjamin pendidikan anaknya secara alamiah. Ia berprinsip bahwa dalam mendidik anak, orang tua perlu memberi kebebasan pada anak agar mereka dapat berkembang secara alamiah.


LANDASAN FILOSOFIS PAUD LENGKAP BAGIAN 5  >>

Bag 5


Sumber: Buku Seri Bahan Ajar Diklat Berjenjang Tingkat Dasar Dirjen PAUD Nonformal dan Informal, Direktorat Pembinaan PTK PAUD Nonformal dan Informal, Depdikbud. 2013.

INILAH LANDASAN FILOSOFIS PAUD LENGKAP BAGIAN 3

Landasan Filosofis Pendidikan Anak Usia dini (PAUD) dapat dilihat dalam pandangan beberapa ahli berikut ini :

2. Pandangan Maria Montessori (1870 - 1952)
3. Pandangan Froebel (1782 - 1852)
4. Pandangan J.J Rousseau (1712 - 1778)
5. Pandangan Jean Piaget (1896 - 1980) dan Lev S Vigotsky (1896 - 1934)
6. Pandangan Ki Hadjar Dewantara (1889 - 1959)




LANDASAN FILOSOFIS PAUD 


3. Pandangan Froebel

Friendrich Wilheim August Froebe
Froebel yang bernama lengkap Friendrich Wilheim August Froebel, lahir di Jerman pada tahun 1782 dan wafat pada tahun 1852.

Pandangannya tentang anak banyak dipengaruhi oleh Pestalozzi serta para filsuf Yunani Froebel memandang anak sebagai individu yang pada kodratnya bersifat baik. Sifat yang buruk timbul karena kurangnya pendidikan atau pengertian yang dimiliki anak tersebut. Setiap tahap perkembangan yang dialami oleh anak harus dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh. Anak memiliki potensi, dan potensi itu akan hilang jika tidak dibina dan dikembangkan.

Tahun-tahun pertama dalam kehidupan seorang anak amatlah berharga serta akan menentukan kehidupannya di masa yang akan datang. Oleh karena itu masa anak merupakan masa emas (The Golden Age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Masa anak merupakan fase/tahap yang fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase/tahap inilah terjadi peluang yang cukup besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang.

Pendidikan keluarga sebagai pendidikan pertama bagi anak dalam kehidupannya, sangatlah penting, karena kehidupan yang dialami oleh anak pada masa kecilnya akan menentukan kehidupannya di masa depan.

Froebel memandang pendidikan dapat membantu perkembangan anak secara wajar. Ia menggunakan taman sebagai simbol dari pendidikan anak. Apabila anak mendapatkan pengasuhan yang tepat, maka seperti halnya tanaman muda akan berkembang secara wajar mengikuti hukumnya sendiri. Pendidikan taman kanak-kanak harus mengikuti sifat dan karakterisitik anak. Oleh sebab itu bermain dipandang sebagai metode yang tepat untuk membelajarkan anak, serta merupakan cara anak dalam meniru kehidupan orang dewasa di sekelilingnya secara wajar. Froebel memiliki keyakinan tentang pentingnya belajar melalui bermain.


10 TIPS MENGAJAR YANG BAIK UNTUK GURU PENDIDIK PAUD

Tips cara mengajar PAUD yang baik
Dalam kegiatan pembelajaran di PAUD terdapat beberapa teknik dan cara mengajar yang baik yang harus dimiliki oleh seorang guru atau pendidik PAUD, teknik dan cara mengajar yang baik ini menyangkut kompetensi dan kemampuan profesional yang harus dimiliki seorang pendidik dalam kegiatan pembelajaran dan pengasuhan anak usia dini. Berikut ini ada beberapa tips mengajar dan mendidik yang baik dalam kegiatan pembelajaran dan pengasuhan di PAUD yaitu :

INILAH LANDASAN FILOSOFIS PAUD LENGKAP BAGIAN 1

Landasan Filosofis Pendidikan Anak Usia dini (PAUD) dapat dilihat dalam pandangan beberapa ahli berikut ini :

1. Pandangan Pestalozzi (1746 - 1827)
3. Pandangan Froebel (1782 - 1852)
4. Pandangan J.J Rousseau (1712 - 1778)
5. Pandangan Jean Piaget (1896 - 1980) dan Lev S Vigotsky (1896 - 1934)
6. Pandangan Ki Hadjar Dewantara (1889 - 1959)



Baca selengkapnya di sini !!



LANDASAN FILOSOFIS PAUD 

1. Pandangan Pestalozzi

Johann Heinrich Pestalozzi adalah seorang ahli pendidikan Swiss yang hidup antara 1746 - 1827. Pestalozzi adalah seorang tokoh yang memiliki pengaruh cukup besar dalam dunia pendidikan Pestalozzi berpandangan bahwa anak pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik. Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada terjadi pada anak berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa masing-masing tahap pertumbuhan dan perkembangan seorang individu haruslah tercapai dengan sukses sebelum berlanjut pada tahap berikutnya.

Permasalahan yang muncul dalam tahap perkembangan akan menjadi hambatan bagi individu tersebut dalam menyelesaikan tugas perkembangannya dan hal ini akan memberikan pengaruh yang cukup besar pada tahap berikutnya.

Pestalozzi memiliki keyakinana bahwa segala bentuk pendidikan adalah berdasarkan pengaruh panca indera, dan melalui pengalaman-pengalaman tersebut potensi-potensi yang dimiliki oleh seorang individu dapat dikembangkan. Pestalozzi bercaya bahwa cara belajar terbaik adalah mengenal berbagai konsep adalah dengan melalui berbagai pengalaman antara lain dengan menghitung, mengukur, merasakan dan menyentuhnya.

Pandangannya tentang tujuan pendidikan ialah memimpin anak menjadi orang yang baik dengan jalan mengembangkan semua daya yang dimiliki oleh anak. Ia memandang bahwa segala usaha yang dilakukan oleh orang dewasa harus disesuaikan dengan perkembangan anak menurut kodratnya, sebab pendidikan pada hakikatnya adalah suatu usaha pemberian pertolongan agar anak dapat menolong dirinya sendiri di kemudian hari. Pandangan Pestalozzi tentang anak dapat disimpulkan bahwa anak harus aktif dalam menolong atau mendidik dirinya sendiri. Selain itu perkembangan anak berlangsung secara teratur, maju setahap demi setahap, implikasi atau pengaruhnya adalah bahwa pembelajaran harus maju teratur selangkah demi selangkah.

Selain itu Pestalozzi memandang bahwa keluarga merupakan cikap bakal pendidikan yang pertama, sehingga bainya seorang ibu memiliki tanggung jawab yang cukup besar dalam memberikan dasar-dasar pendidikan yang pertama bagi anak-anaknya. Dari pendangan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan terutama lingkungan keluarga memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk kepribadian seorang anak pada awal kehidupannya. Kasih sayang yang didapatkan anak dalam lingkungan keluarganya akan membantu mengembangkan potensinya.

Dalam pandangan Pestalozzi kecintaan yang diberikan ibu kepada anaknya akan memberikan pengaruh terhadap keluarga, serta menimbulkan rasa terimakasih dalam diri anak. Pada akhirnya, rasa terimakasih tersebut akan menimbulkan kepercayaan anak terhadap Tuhan. Dari uraian tersebut di atas, nampak bahwa Pestalozzi menghendaki bentuk pendidikan yang harmonis yang seimbang antara jasmani, rohani, social dan agama.



INILAH LANDASAN FILOSOFIS PAUD LENGKAP BAGIAN 2

Landasan Filosofis Pendidikan Anak Usia dini (PAUD) dapat dilihat dalam pandangan beberapa ahli berikut ini :

2. Pandangan Maria Montessori (1870 - 1952)
3. Pandangan Froebel (1782 - 1852)
4. Pandangan J.J Rousseau (1712 - 1778)
5. Pandangan Jean Piaget (1896 - 1980) dan Lev S Vigotsky (1896 - 1934)
6. Pandangan Ki Hadjar Dewantara (1889 - 1959)




2. Pandangan Maria Montessori


Maria Motessori hidup sekitar tahun 1870-1952. Ia adalah seorang dokter dan ahli tentang manusia yang berasal dari Italia. Pemikiran-pemikirannya masih populer di seluruh dunia.

Pandangan Montessori tentang anak tidak terlepas dari pengaruh pemikiran ahli yang lain yaitu Rousseau dan Pestalozzi yang menekankan pada pentingnya kondisi lingkungan yang bebas dan penuh kasih agar potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal.

Montesori memandang perkembangan anak usia prasekoal/TK sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Ia memahami bahwa pendidikan merupakan aktivitas diri yang mengarah pada pembentukan disiplin pribadi, kemandirian dan pengarahan diri. Menurut Montessori, persepsi anak tentang dunia merupakan dasar dari ilmu pengetahuan.

Untuk itu ia merancang sejumlah materi yang memungkinkan indera seorang anak dikembangkan. Dengan menggunakan materi untuk mengoreksi diri, anak menjadi sadar terhadap berbagai macam rangsangan yang kemudian disusun dalam pikirannya.

Montessori mengembangkan alat-alat belajar yang memungkinkan anak untuk mengekplorasi lingkungan. Pendidikan Montessori juga mencakup pendidikan jasmani, berkebun dan belajar tentang alam. Montessori beranggapan bahwa pendidikan merupakan suatu upaya untuk membantu perkembangan anak-anak secara menyeluruh dan bukan sekedar mengajar. Spirit atau nilai-nilai dasar kemanusiaan itu berkembang melalui interaksi antara anak dengan lingkungannya.

Montessori meyakini bahwa ketika dilahirkan, anak secara bawaan sudah memiliki pola perkembangan psikis atau jiwa. Pola ini tidak dapat teramati sejak lahir. Tetapi sejalan dengan proses perkembangan yang dilaluinya maka akan dapat teramati. Anak memiliki ,otif atau dorongan yang kuar ke arah pembentukan jiwanya sendiri (self construction) sehingga secara sepontan akan berusaha untuk membentuk dirinya melalui pemahaman terhadap lingkungannya.

Montessori menyatakan bahwa dalam perkembangan anak terdapat masa peka, suatu masa yang ditandai dengan begitu tertariknya anak terhadap suatu objek atau karakteristik tertentu serta cenderung mengabaikan objek yang lainnya. Pada masa tersebut anak memiliki kebutuhan dalam jiwanya yang secara sepontan meminta kepuasan.

Masa peka ini tidak bisa dipastikan kapan timbulnya pada diri seorang anak, karena sifat spontan dan tanpa paksaan. Setiap anak memiliki masa peka yang berbeda. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika masa peka tersebut tidak dipergunakan secara optimal maka tidak akan ada lagi kesempatan bagi anak untuk mendapatkan masa pekanya kembali. Tetapi meskipun demikian, guru dapat memprediksi atau memperkirakan timbulnya masa peka pada seorang anak dengan melihat minat anak pada saat itu.

Berkenaan dengan hal tersebut maka tugas seorang guru adalah mengamati dengan teliti perkembangan setiap muridnya yang berhubungan dengan masa pekanya. Kemudian guru dapat memberikan stimulasi atau rangsangan yang dapat membantu berkembangnya masa peka anak sesuai dengan fungsinya.

Anak memiliki kemampuan untuk membangun sendiri pengetahuannya, dan hal tersebut dilakukan oleh anak mulai dari awal sekali. Gejala psikis atau kejiwaan yang memungkinkan anak membangun pengetahuanya sendiri dieknal dengan istilah jiwa penyerap (absorbent mind). Dengan gejala psikis/kejiwaan tersebut anak dapat melakukan penyerapan secara tidak sadar terhadap lingkungannya, kemudian menggabungkannya dalam kehidupan psikis/jiwanya. Sering dengna perkembangannya, maka proses penyerapan tersebut akan berangsur disadari. 

LANDASAN FILOSOFIS PAUD LENGKAP BAGIAN 3  >>

Bag 3 

Cari Tulisan